Susut 4,75%, Ekonomi Belanda Suram

Laporan dari Den Haag

Susut 4,75%, Ekonomi Belanda Suram

- detikFinance
Minggu, 13 Sep 2009 15:50 WIB
Susut 4,75%, Ekonomi Belanda Suram
Den Haag - Belanda akan memasuki masa-masa sulit. Ekonomi Belanda susut 4,75%, pengangguran melonjak dan utang negara meningkat tajam. Per bayi menanggung beban utang EUR 160.000. Indonesia perlu mengantisipasi.

Prospek suram ekonomi Belanda itu terungkap dari Miljoenennota 2010 yang bocor ke redaksi stasiun televisi RTL dan dilansir Sabtu malam atau Minggu hari ini (13/9/2009) WIB.

Miljoenennota adalah penjelasan umum mengenai pendapatan dan belanja dari anggaran nasional (RAPBN) Kerajaan Belanda, yang secara tradisi dipresentasikan setiap tahun pada Selasa ketiga bulan September, kemudian dibahas di parlemen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam Miljoenennota 2010 itu terungkap bahwa ekonomi Belanda menyusut 4,75%. Ini berarti daya beli per kapita turun 0,25%. Pengangguran meningkat ke angka 615.000 atau 8% dari angkatan kerja. Diperkirakan per individu akan mengurangi pengeluaran hingga 3%.

Perkiraan pendapatan negara tahun depan EUR 212 miliar, naik EUR +2 miliar dibandingkan tahun ini, namun turun EUR -10 miliar dari tahun lalu. Sedangkan pengeluaran di 2010 akan meningkat tajam, antara EUR 234 miliar hingga EUR 244 miliar, alias terjadi defisit setara 6,3% dari BNP.

Defisit ini, dikombinasi dengan miliaran dana bailout untuk menyelamatkan sektor perbankan, membuat utang negara tahun depan meningkat tajam (EUR 381 miliar), bertambah EUR 40 miliar dari tahun ini. Angka itu setara 2/3 volume ekonomi Belanda.

"Jika tiap bayi yang dilahirkan tahun ini harus menanggung beban ketidakseimbangan neraca tersebut, maka rekening yang harus mereka pikul besarnya EUR 160.000 per bayi," tulis kabinet dalam Miljoenennota 2010.

Sebab lain, pemerintah Belanda kehilangan potensi pemasukan pajak luarbiasa besar akibat krisis sepanjang tahun lalu dan pengeluaran besar untuk tunjangan pengangguran yang meningkat.

Kabinet belum akan memulai penghematan ketat di 2010. Kementerian yang mengalami kekurangan anggaran di tahun tersebut diharuskan mencari solusi sendiri. Baru setelah 2010 kabinet akan melalukan penghematan 1,8 miliar. Konsekuensinya, tunjangan studi tidak dinaikkan sesuai besaran inflasi seperti tahun-tahun sebelumnya. Tunjangan kesehatan juga akan dibatasi.

Kemudian setelah 2011 penghematan anggaran akan diperketat lagi hingga sebesar EUR 35 miliar sampai EUR40 miliar. Buntutnya, tunjangan anak dan pensiun tunjangan hari tua (AOW) bagi mereka yang tinggal di luar Belanda (baik orang Belanda asli maupun orang asing yang pernah bekerja di Belanda) akan dikurangi.

Di tahun-tahun mendatang kabinet juga akan mengintensifkan pajak untuk menjaga pemasukan pendapatan negara. Ini artinya, tiap-tiap penduduk diharapkan kontribusinya untuk mengatasi defisit anggaran.

Miljoenennota 2010 ini dinilai paling suram sejak Perang Dunia II. "Setelah krisis kita akan dihadapkan pada persoalan amat rumit. Tak melakukan apa-apa itu bukan opsi. Pilihan sulit tak akan terhindarkan," demikian Menteri Keuangan merangkap Wakil Perdana Menteri (Waperdam) Wouter Bos seperti dikutip dari Miljoenennota 2010.

Beban defisit anggaran sebenarnya bisa diperingan jika pos-pos berikut ini dicabut. Misalnya, jika hypotheekrente aftrek (pengembalian sebagian bunga terbayar dari cicilan rumah) dicabut, maka akan menghemat anggaran EUR 11 miliar. Kemudian tunjangan sewa rumah, jika dihapus akan menghasilkan EUR 2 miliar. Dan penghapusan aanrechtsubsidie (benefit pajak) untuk istri yang tidak bekerja akan menghemat EUR 4 miliar.

Namun nampaknya kabinet tidak cukup berani menjamah 'kebijakan sakral' di mata rakyat Belanda itu, karena takut dihukum dalam pemilu dengan mengalihkan pilihan pada partai-partai oposisi. (es/es)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads