Produksi Plastik Hilir Terkendala Bea Impor

Produksi Plastik Hilir Terkendala Bea Impor

- detikFinance
Senin, 14 Sep 2009 15:12 WIB
Produksi Plastik Hilir Terkendala Bea Impor
Cikarang - Tingginya bea masuk impor disinyalir menjadi sebab utama produksi plastik hilir sulit domestik bersaing dengan produk serupa dari negara-negara lain. Produsen lokal sulit mengandalkan bahan baku dari dalam negeri karena kualitasnya masih belum sesuai standar.

"Bea masuk impor di Indonesia masih tinggi, padahal di beberapa negara bea masuk sudah dihapuskan. Tentu saja kita akan kalah bersaing," ujar Direktur PT Dynaplast Tbk (DYNA), Toni Hambali di pabriknya, Cikarang, Senin (14/9/2009).

Toni mengatakan, saat ini bea masuk impor bahan baku olahan plastik sedang mengalami peningkatan dari 10% menjadi 15%. Rencananya, pada tahun 2010 bea masuk impor ini akan dihapuskan sesuai dengan kesepakatan negara-negara di kawasan Asia Tenggara (Asia Free Trade Aggrement/AFTA).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pemerintah harus konsisten akan menghapuskan bea masuk impor pada tahun 2010, yaitu menjadi 0%," tambah Toni.

Dengan bea masuk impor 0%, lanjut Toni, akan meringankan beban pelaku industri plastik hulu, karena sebagian besar bahan bakunya masih didatangkan dari luar negeri. Para pelaku industri plastik pun menyarankan untuk memperbanyak pasokan bahan baku, khususnya yang berasal dari dalam negeri.

Kendati demikian, lanjutnya, perlu peran pemerintah untuk merealisasikan hal tersebut. Saat ini, pemasok plastik industri hilir dalam negeri dinilai masih minim, meskipun masih ada dengan produksi minim.

"Produsen lokal memang ada, tapi jumlahnya terbatas. Mereka masih produksi jenis-jenis yang umum. Kami membutuhkan bahan yang lebih spesifik, macam nafta dan kondensan," papar Toni.

"Pemerintah bisa memjembatani antara industri hulu dan hilir agar dapat bekerjasama," imbuh Toni.

(dro/dro)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads