Menurut Sekretaris Kementerian Negara BUMN M Said Didu, pemerintah baru saja memasukan 3 direksi baru ke dalam tubuh Djakarta Lloyd. Dua diantaranya berasal dari PANN.
"Wakil Direktur Utama dan Direktur Armada dari PANN, sedangkan Direktur Keuangan dari mantan Bank Mandiri," ujarnya di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (17/9/2009).
Ia mengatakan, kerjasama tersebut merupakan sinergi antara perusahaan penyewaan kapal dengan perusahaan operator kapal. Menurutnya, selama ini Djakarta Lloyd sebagai operator kapal selalu mengalami kerugian dalam kegiatan operasionalnya.
Masalah yang dihadapi BUMN pelayaran itu bukan hanya menderita kerugian saja, tetapi juga permasalahan disiplin internal, manajemen dan karyawan.
"Secara korporasi dan neraca masih ada masalah jadi lengkap penyakitnya. Operator kapal swasta saja bisa untung, kenapa dia (Llyod) rugi," imbuhnya.
Jika sinergi tersebut berhasil, pemerintah akan membatalkan rencana likuidasi perusahaan pelat merah itu yang sebelumnya pernah dilakukan kajian.
Sebelumnya Direktur PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) Boyke Mukijat mengaku kesulitan merestrukturisasi Djakarta Lloyd karena belum bisa memenuhi kaidah sustainibilitas. Alasannya, perusahaan itu memiliki masalah yang cukup berat.
(ang/dnl)











































