"G-20 bagi kita lebih make sense untuk menjadi forum yang permanen dan menjadi motor perekonomian dunia ke depan. Ekonomi dunia kini dipacu bukan oleh Amerika, tapi oleh Asia, India, Cina juga Indonesia serta emerging seperti Brazil, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan," ujar Juru Bicara Kepresidenan, Dino Patti Jalal di Istana Negara, Jakarta, pekan lalu.
Dino mengatakan, saat ini sedang terjadi perdebatan mengenai forum mana yang akan dilembagakan untuk menjadi permanen. Seperti diketahui, saat ini terdapat forum G-8, G-14 juga G-20.
"Ada yang mengakui G-8 saja. Ada juga yang mengakui G-14 dan ada yang mengakui G-20. Ini yang akan kita lihat bersama kemana arahnya, karena ini sangat strategis bagi Indonesia. Kita jelas ingin G-20 ini yang menjadi permanen dan menjadi motor bagi ekonomi dunia, karena sekarang ini dunia tidak diatur oleh G-8 saja," jelas Dino.
Menurut Dino, perdebatan sengit soal ini kemungkinan akan terjadi dalam pertemuan nanti. Namun diharapkan akan berujung pada kejelasan.
"Ini perdebatan sengit. Perancis inginnya G-14. AS kita lihat arahnya kemana dan masih banyak tarik menarik. Saya kira mudah-mudahan dapat lebih jelas di PIttsburg nanti," ujarnya.
Selain itu, SBY juga akan memberikan masukan soal benturan kebudayaan yang terjadi di berbagai belahan dunia saat ini, seperti konflik keagamaan dan sebagainya.
"Ini yang akan disampaikan presiden, pidato mengenai harmony in civilization," jelas Dino.
Presiden SBY juga akan memberikan tekanan-tekanan terhadap negara-negara G-20 soal wacana perubahan iklim seperti yang akan dibahas di Copenhagen pada Desember 2009.
"Kita ingin agar G-20 bisa memberi push dalam perubahan iklim yang akan dibahas di Copenhagen nantinya. Indonesia juga ingin mengeksplorasi isu ketahanan pangan dan energi," jelas Dino.
Pada 23-29 September 2009, SBY bersama Ibu Negara akan mengadakan kunjungan kerja ke AS. Presiden SBY dijadwalkan akan menghadiri KTT G-20 pada 24-25 September 2009, kemudian akan melanjutkan kunjungan ke Boston.
"Di Boston, beliau akan mengadakan pertemuan dengan bisnismen, para CEO disana dan akan mengadakan round table bersama tokoh-tokoh akademisi serta akan menyampaikan pidato di JF School of Government di Harvard University. Saya kira beliau adalah presiden Indonesia pertama yang memberikan pidato di Harvard," ujar Dino.
(dro/dro)











































