Berau Coal Targetkan Produksi 15 Juta Ton di 2009

Berau Coal Targetkan Produksi 15 Juta Ton di 2009

- detikFinance
Selasa, 29 Sep 2009 15:54 WIB
Berau Coal Targetkan Produksi 15 Juta Ton di 2009
Jakarta - PT Berau Coal telah memproduksi 10,5 juta ton hingga kuartal III tahun ini. Adapun target produksi tahun ini sekitar 15 juta ton dengan penjualan 14,2 juta ton.

"Kami upayakan target ini bisa tercapai," ujar Presiden Direktur Berau Bob Kamandanu di sela acara halal bihalal Indonesia Mining Association (IMA) di Hotel Nikko, Jakarta, Selasa (29/9/2009).

Sementara tahun depan, imbuh dia, penjualan ditargetkan sekitar 16 juta ton hingga 16,5 juta ton dengan produksi 17 juta ton sampai 18 juta ton.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami targetkan pada 2014 hingga 2015, produksi batubara Berau bisa mencapai level 30 juta ton," ungkapnya.

Sementara, untuk produksi batubara Indonesia hingga Agustus 2009 dalam catatan Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) yaitu 172.039.591 ton dari target produksi 230 juta ton tahun ini. Dari total produksi tersebut, penjualan untuk domestik sebesar 34.767.029 ton dan ekspor 137.272.562 ton.

"Kami masih perlu 58 juta ton lagi untuk mencapai target 230 juta ton. Mudah-mudahan untuk produksi tahun ini bisa lebih dari target  250 juta ton dan tahun depan kami targetkan produksi bisa capai 270 juta ton," kata Bob yang juga Ketua Umum APBI.

Bob menyatakan, saat ini pihaknya juga tengah mengamati pengurangan volume ekspor dari 40 juta ton menjadi 20 juta ton di Cina pada kuartal empat tahun ini dari  karena adanya peningkatan permintaan di dalam negeri tirai bambu tersebut.

"Itu berarti impornya akan bertambah. Selain Indonesia, yang dekat itu kan Australia. Memang Australia batubaranya bagus, tapi harganya sering tidak cocok di harga," kata Bob.

Bob menambahkan, saat ini pihaknya akan bekerja dengan bursa berjangka untuk mengumumkan seluruh kontrak penjualan yang terjadi di Indonesia sehingga harga batubara Indonesia bisa menjadi acuan ke depannya.

"Sekarang kita eksportir terbesar di dunia, tetapi masih mengacu kepada Newcastle. Kita ingin punya harga acuan sendiri. Mudah-mudahan bisa siap dalam 1 atau 2 tahun ke depan," tandas Bob.
(epi/ang)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads