"Yang saya khawatirkan bukan hitung-hitungan magnitude -nya terhadap inflasi, tapi lebih kepada dampak psikologis yaitu harga barang dan jasa akan ikut naik," ujar Kepala BPS Rusman Heriawan saat dihubungi wartawan, Selasa (6/10/2009).
Menurut Rusman, kenaikan harga elpiji sebesar Rp 100 per kilogram tersebut terhadap angka inflasi bulanan tidak memberikan dampak langsung (direct impact) yang terlalu besar, meskipun bobot elpiji dan minyak tanah dalam struktur perhitungan inflasi yaitu hampir mencapai 3 persen.
Sementara, beras yang menjadi penyumbang tertinggi terhadap inflasi berkontribusi sebesar 4 persen.
"Kalau cuma Rp 100 per kg itu, direct impact -nya kecil sekali," ungkapnya.
Rusman memperkirakan target inflasi dalam APBN-P 2009 sebesar 4,5 persen dapat tercapai meskipun ada kenaikan tersebut. "Saya kira kalau yang naik 12 kg target APBN-P masih aman. Kecuali kalau yang naik 50 kg itu multiplier effect -nya besar," kata Rusman.
Ia menambahkan, keputusan yang diambil Pertamina untuk menaikkan elpiji secara bertahap sudah bagus."Barangkali keputusan menaikkan harga elpiji secara gradual bagus juga untuk edukasi, asal jangan naik tiba-tiba. Itu berbahaya," ungkapnya.
Untuk diketahui, PT Pertamina (Persero) telah memastikan akan menaikkan harga elpiji ukuran 12 kg bulan ini. Rencananya kenaikan tersebut sebesar Rp 100 per kilogram setiap bulannya. Namun Pertamina masih belum bisa memastikan kapan tanggal kenaikan elpijinya.
Saat ini harga keekonomian elpiji 12 kg tercatat sekitar Rp 7.700 per kg, sedangkan harga jual Pertamina ke konsumen Rp 5.750 per kg, sehingga BUMN tersebut mesti menanggung kerugian hampir Rp 2.000 per kg.
Pertamina mengusulkan kenaikan harga elpiji ukuran tabung 12 kg secara bertahap sebesar Rp100 per kg per bulan atau Rp1.200 per tabung per bulan. Pertamina memperkirakan akan mengalami kerugian sekitar Rp 3 triliun dari penjualan elpiji kemasan 12 kg pada tahun 2009.
(epi/dnl)










































