Menurut Direktur Pemasaran Krakatau Steel Irvan Hakim, meski cenderung naik, namun harga baja saat ini masih belum stabil. Ketidakstabilan itu dikarenakan pertumbuhan ekonomi yang masih sulit diprediksi pergerakannya.
"Belum lagi kurs dolar yang selalu berubah ditambah minyak mentah juga," katanya di kantor Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (6/10/2009).
Meski begitu, ia menolak menyebutkan posisi harga baja saat ini. Menurutnya, harga jual baja perusahaan tidak bisa dipublikasikan karena akan menguntungkan kompetitor.
"Kenaikannya sudah 30 persen, detailnya tidak bisa saya sebutkan," ungkapnya.
Demi menyambut harga baja yang membaik, perusahaan plat merah itu langsung mengoptimalkan pabriknya agar beroperasi penuh.
"November nanti pabrik kita akan full capacity ," katanya.Hingga September 2009, jumlah baja yang sudah dikirim oleh perseroan mencapai 180 ribu ton per bulan.Pada bulan Oktober, Krakatau Stell sudah menerapkan full capacity dalam
"Jumlah tersebut (180 ribu ton) merupakan baja finished product yang dikirimΒ kepada konsumen," kata Irfan.
Produksi baja yang telah dikirim tersebut hanya produk yang dihasilkan Krakatau Steel, belum termasuk anak-anak usahanya. Dengan diberlakukannya kapasitas penuh pada pabriknya, ia mengharapkan penjualan baja Krakatau bakal lebih tinggi dari tahun sebelumnya."Kita harapkan lebih tinggi dari tahun lalu," ujarnya.
IPO LatinusaPada kesempatan yang sama, Direktur Utama Krakatau Steel Fazwar Bujang menegaskan, anak usahanya yang bernama PT Pelat Timah Nusantara (Latinusa) bisa melangsungkan penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) di akhir November 2009.
Latinusa bakal melepas kepemilikan sahamnya sekitar 20-30 persen, dibantu oleh PT Bahana Securities sebagai penjamin emisi dalam aksi korporasi tersebut.
"Mengenai detailnya tanyakan langsung ke Bahana saja," katanya. (ang/dnl)











































