Sekjen Electronic Marketer Club (EMC) Agus Suyanto mengatakan sampai saat ini para produsen dan pedagang elektronik masih belum akan menurunkan harga meskipun rupiah menguat terhadap dollar AS. Pelaku usaha elektronik masih menunggu tren penguatan rupiah saat ini.
"Masih belum ada penurunan harga, penguatan rupiah baru beberapa pekan, bahan baku (impor) masih memakai kontrak lama," katanya saat dihubungi detikFinance , Rabu (7/10/2009).
Untuk itu kata dia, penyesuaian penurunan harga sangat tergantung tren penguatan apakah sesaat atau berjangka lama. Selain itu, pihaknya juga harus melihat kondisi pasar elektronik apakah sedang bergairah atau tidak.
Ia memperkirakan jika memang terjadi penurunan harga maka yang akan terjadi pada barang-barang elektronik berteknologi tinggi seperti TV LCD, Handphone dan lain-lain. Sementara produk-produk kulkas dan AC umumnya sudah banyak menggunakan komponen lokal, sulit untuk turun.
Sementara itu Public Relation and Marketing Event Manager PT Hartono Istana Teknologi (produsen Polytron) Santo Kadarusman saat dihubungi terpisah mengatakan sampai sekarang pihak Polytron belum ada rencana menurunkan harga produknya meski rupiah menunjukan tren menguat.
"Sejauh ini, kita belum ada strategi terkait penurunan harga," katanya.
Ia menjelaskan penguatan rupiah saat ini akan berimbas pada keuntungan pemasaran untuk produk-produk domestik sementara untuk produk elektronik yang akan di ekspor justru akan merugi. Sehingga paling tidak pihaknya masih melihat tren ini sampai akhir Oktober setalah itu dampaknya baru akan terjadi dalam waktu 2-3 bulan ke depan.
"Belum ada rencana menurunkan, kita akan lihat sampai akhir Oktober," tegasnya.
Seperti diketahui sejak dua pekan terakhir rupiah terus menunjukan tren mengguat terhadap dollar AS bersamaan dengan mata uang asing lainnya. Sampai hari ini rupiah masih bertengger di kisaran Rp 9.400 per dollar AS.
(hen/dnl)











































