produksi akibat bencana gempa yang terjadi Rabu (30/10/2009) pekan lalu. Semua dapat beroperasi kembali setelah sempat terhenti akibat pemadaman listrik.
Demikian disampaikan Ketua Umum Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Thomas Darmawan di hotel Sahid Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (7/10/2009).
Ia menerangkan, pabrik makanan dan minuman yang ada di Sumatera Barat relatif tidak
ada masalah. Kendala terjadi di awal gempa, yaitu infrastruktur dan listrik yang
sempat mati.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sumatera Barat merupakan daerah dengan pabrik makanan dan minuman yang cukup
banyak, seperti mie instan dan air kemasan. Pabrik ini banyak mendistribusikan produk untuk wilayah Sumatera, jadi pasokan makanan dan minuman Jawa tidak mengalami
gangguan.
Menurutnya, pabrik yang mengalami gangguan hanya industri CPO dan kakao. "Besok akan ada pertemuan dgn pelaku industri Cpo dan kakao. Saya akan tanya, apakah ada gangguan produksi akibat gempa,"imbuhnya.
Ia juga menghimbau agar para pengusaha makanan dan minuman mempercepat penyaluran
bantuan bagi para korban gempa. Ini didasarkan atas distribusi bantuan yang belum
merata, hingga ada korban yang rela membayar.
"Hampir di setiap daerah terjadi keterlambatan distribusi bantuan. Jadi percepat
bantuan, supaya terdistribusi dengan merata,"ujarnya.
Selain itu, para pengusaha juga dapat menjual makanan dan minumannya dengan harga
dibawah standar untuk menggerakan ekonomi di sumbar.
(ang/ang)










































