Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Urip Timuryono saat dihubungi detikFinance, Kamis (8/10/2009).
"Hingga triwulan ketiga dibandingkan dengan periode yang samaΒ tahun lalu masih minus 4%," katanya.
Β
Ia menjelaskan penurunan ini tidak terlepas dari kondisi makro perekonomian yang belum pulih total. Khusus pada bulan September lalu ada libur hari raya lebaran hingga 10 hari sehingga membuat proses distribusi berkurang. Hasilnya sepanjang bulan September penjualan semen hanya 2,5 juta ton saja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenai dampak bencana gempa terhadap permintaan semen, ia memperkirakan akan baru terasa permintaannya pada awal tahun depan atau paling cepat di bulan Desember 2009. Hal ini karena proses pembersihan puing-puing bangunan sampai rekontruksi memerlukan waktu bulanan.
Urip juga menyatakan permintaan yang tinggi pasca gempa di Sumbar dan Tasikmalaya masih bisa dicukupi oleh produksi semen dalam negeri.
Namun kata dia, permintaan pasca gempa bagi konsumsi semen domestik, pengaruhnya tidak akan signifikan karena hal itu diimbangi oleh tertundanya rencana pembangunan gedung-gedung baru, yang sebelumnya sudah direncanakan.
Β
"Saya kira gempa untuk sebesar itu produksi masih mencukupi. Pengalaman waktu di Aceh tidak ada kekurangan, di Jogja juga. Apalagi di Sumbar suplai bakal terpenuhi (Semen Padang) karena kapasitas melebihi dari kebutuhan rutin di sana," jelasnya.
Seperti diketahui konsumsi semen dalam negeri pada tahun 2008 mencapai 38,08 juta ton, sedangkan pada tahun 2007 hanya mencapai 34,174 juta ton. Pada tahun ini diperkirakan mencapai 36 juta ton dengan perkiraan pada tahun depan mencapai 38-39 juta ton.
Secara total penjualan semen untuk domestik dan ekspor pada 2008 menembus 43,02 juta ton, atau naik dari tahun 2007 mencapai 41,952 juta ton.
(hen/qom)











































