Menurut salah seorang penjual emas di Pasar Sunan Giri, Muhammad Sukri Agus yang biasa dipanggil Ari, faktor lain yang memengaruhi harga emas selain nilai dolar adalah harga per troy ounce. Ari menjelaskan untuk menentukan harga emas setiap harinya menggunakan rumus nilai dolar dikali harga per troy ounce dibagi berat per troy once (31,1 gram).
Jadi, walaupun nilai dolar saat ini rendah dibandingkan rupiah sekitar dengan kurs Rp 9.450, tetapi hargaΒ per troy ounce-nya sedang tinggi, yaitu sekitar US$ 1.055. Sehingga dari hasil perhitungan tersebut, muncul angka Rp 320.000 untuk harga emas murni hari ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"HargaΒ per troy once Rp 1055 ini tinggi untuk tahun ini. Dulu sekitar bulan Februari-Maret dolar mahal sekitar Rp 12.000 jadi emasnya sekitar Rp 380.000 tapi harga per troy ounce-nya rendah sekitar 985. Ini karena dolar naik terlalu tinggi," jelas Ari saat ditemui detikFinance di tokonya, Jakarta, Sabtu (10/10/2009).
Harga per troy ounce ini bisa diketahui melalui layanan online. Ari sendiri mendapat informasi mengenai harga ini melalui layanan SMS online yang bisa diakses tiap jam. Biasanya para penjual emas menggunakan harga per troy ounce pada jam 9 atau 11 pagi untuk menjual emas pada hari itu.
Berbeda dengan Ari, salah seorang penjual lain di pasar Sunan Giri, Tasrif Taher menyatakan, harga emas ini juga dipengaruhi oleh harga minyak dunia. Jika harga minyak dunia sedang naik maka harga emas akan naik.
Tidak jauh berbeda dengan harga emas di toko milik Ari, di tokonya biasa ia dipanggil Dedi ini, harga emas murni dijual sebesar Rp 310 ribu per gram.
Untuk harga emas kuning saat ini rata-rata dibuka dengan harga jual Rp 320 ribu, harga jual bekas Rp 240 ribu, dan harga beli Rp 220 ribu. Sedangkan untuk emas putih, harga jual baru dibuka dengan harga sekitar Rp 280 ribu, harga jual second Rp 270 ribu, dan harga beli Rp 240 ribu.
Ari menjelaskan, biasanya sebagai penjual emas, untung tidak didapat dari penjualan barang baru tetapi dari penjualan barang bekas. Dengan menjual barang bekas, Ari bisa mengambil untung sekitar 10% dari modal beli.
Begitu juga dengan Dedi, saat ini dia bisa mengambil untung 10% dari modal, sedangkan dulu hanya mengambil keuntungan Rp 10 ribu tiap gram.
Menurut Ari, bisnis jual beli emas ini tetap menguntungkan. Keuntungan diperoleh berdasarkan modal. Semakin banyak modal maka semakin banyak barang sehingga banyak pembeli karena ada barang yang diinginkan pembeli.
Apalagi, menurutnya, kebanyakan masyarakat Jakarta membeli emas karena gaya hidup, bukan untuk investasi. Padahal, investasi dalam bentuk emas sangatlah menjanjikan karena harganya cenderung naik setiap tahunnya.
Ari yang telah berjualan emas sejak tahun 1993 itu menambahkan, walaupun masih mendapatkan untung, tetapi besar keuntungan itu tidak sebesar saat krisis moneter tahun 1998. Saat itu harga emas melonjak tinggi dari Rp 40.000 menjadi Rp 70-80.000 per gram.
"Pada 1998, modal kita masih kecil tapi bisa menjual emas sampai Rp 70.000 sampai Rp 80.000 kemudian terus sampai Rp 152.000," kenang Ari.
(nia/ang)











































