"Konsorsium sudah mau menurunkan tapi dengan conditional precedent (syarat tertentu)," ujarΒ Dirjen Migas Evita Herawati Legowo, di Gedung Departemen ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (15/10/2009).
Evita menyebutkan, sejumlah syarat yang diajukan konsorsium diantaranya konsorsium meminta investasi yang sudah dikeluarkannya bisa dijamin kembali dan juga komitmen dari para calon pembeli mengenai kesiapan mereka untuk menyerap gas tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ditanya mengenai berapa besar penurunan yang diajukan konsorsium tersebut, Evita enggan menyebutkannya.
"Saya tidak bisa sampaikan, yang jelas mereka sudah mau turunkan," tegas Evita.
Seperti diketahui, masalah penjualan gas Donggi Senoro muncuk setelah adanya keputusan rapat koordinasi di Istana Wakil Presiden yang menyebutkan kalau alokasi gas Senoro untuk domestik.
Padahal sebelumnya, di sisi hilir Konsorsium Donggi-Senoro (DS) LNG yang terdiri dari Pertamina, Medco dan Mitsubishi telah menyepakati perjanjian awal (Head of Agreement/HoA) jual beli gas dengan pembeli asal Jepang, Chubu Electric Power dan Kansai Electric Power. Namun karena pemerintah tidak juga memberikan persetujuan untuk jual beli gas tersebut, membuat Kansai mundur menjadi pembeli gas tersebut.
Untuk itu, pada Rabu (19/8/2009) lalu, Departemen ESDM mengundang pembeli domestik untuk mempertanyakan kesiapan mereka membeli gas di lapangan Senoro dan Matindok.
Selain diminta untuk memberikan kepastian pembelian, para calon pembeli juga diminta untuk memikirkan skema pembiayaan lain jika Jepang tidak mau memberikan pendanaan.Β Untuk pengembangan proyek tersebut, Konsorsium membutuhkan pendanaan sebesar US$ 3,7 miliar. Untuk upstream US$ 1,7 miliar dan US$ downstream sebesar US$ 2 miliar.
Dalam proses negosiasi antara pembeli dan produsen gas Senoro tersebut, Dirjen Migas Evita Herawati Legowo ditunjuk untuk menjadi salah satu fasilitor.
Dari hasil pencarian tersebut, tiga calon pembeli domestik gas Senoro sudah menyatakan minatnya untuk menyerap 211 mmscfd gas dari lapangan Senoro dan Matindok. Ketiga calon pembeli domestik tersebut yaitu PT Pupuk Sriwijaya, PT Panca Amara Utama (PAU) dan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero.
(epi/qom)











































