Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu Anggito Abimanyu ketika ditemui di Kantor Menteri Keuangan, Kamis malam (16/10/2009).
"Sekarang kan harga rata-rata masih US$ 60 per barel. Secara hitungan APBN msh aman. Tadi saya sampaikan di Departemen ESDM, kita sudah hitung harga hari ini berapa lalu kita liat rata-ratanya. Itu kan harga minyak WTI (West Texas Intermediate), ICP (Indonesia Crude Price) kan tidak setinggi harga minyak dunia. Kalau kita liat rata-ratanya masih di bawah asumsi APBN-P 2009," tuturnya.
Anggito mengatakan jika memang harga minyak dunia terus naik, maka pendapatan negara juga akan naik dan bisa mengkompensasi kenaikan subsidi BBM. Sehingga walaupun harga minyak dunia tinggi, Anggito mengakui pemerintah masih bisa mengelola APBN tanpa menambah defisit.
Selain itu, penguatan rupiah yang terjadi saat ini juga memberikan dampak positif kepada APBN."Penguatan rupiah itu memberikan ruang ke kita untuki menurunkan realisasi defisit karena rupiah menguat, tapi di sisi lain, minyak tinggi, menambah defisit," tutupnya.
(dnl/qom)










































