"Ini sangat penting karena sektor industri nasional saat ini sangat memprihatinkan sehingga Menperin harus seorang tokoh yang memang paham betul permasalahan sektor industri, mulai dari masalah di kegiatan produksi sampai pemasaran dan keuangan," kata Ketua Umum Asosiasi Mebel Indonesia (ASMINDO), Ambar Tjahjono dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (16/10/2009).
Salah satu masalah mendasar dihadapi perekonomian nasional saat ini adalah pertumbuhan sektor riil yang melambat, terutama di sektor industri manufaktur. Bahkan sejumlah kalangan, termasuk Ketua LP3E Kadin Indonesia, Faisal Basri menilai, telah terjadi de-industrilisasi dini dalam perekonomian nasional akibat kebijakan yang kurang efektif dalam beberapa tahun terakhir. Ini yang membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia sulit mencapai di atas 6% per tahun. Akibatnya selain membuat pertumbuhan lapangan kerja tersendat, produk impor juga semakin merajai pasar dalam negeri.
"Tantangan industri nasional sangat berat saat ini. Karena itu dibutuhkan seorang menteri yang paham dan tahu permasalahan mendasar, serta concern terhadap percepatan kemajuan industri nasional. Apalagi jika sosok tersebut berasal dari kalangan pelaku industri juga, sehingga akan memudahkan dia dalam mengindentifikasi dan memecahkan masalah yang dihadapi industri," tutur Ambar.
Hal senada juga diungkapkan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMI), Thomas Darmawan. Menurut dia lambatnya pertumbuhan ekonomi nasional selama ini karena banyak kebijakan di sektor industri yang belum tidak tepat guna dan belum tepat saran, sehingga tidak banyak membantu menyelesaikan masalah yang ada.
"Kita membutuhkan Menperin yang mempunyai visi industri yang jelas dan tegas dan amanah. Tidak cukup hanya dengan pengalaman sebagai pengusaha saja, apalagi teknorat saja atau politikus. Membangun industri itu kan tidak identik dengan membangun pabrik, tapi harus dengan visi dan idealisme yang jelas dan ini hanya dipunyai oleh orang yang sudah lama berkecimpung di sektor industri," kata Thomas Darmawan.
Kalangan pelaku industri mengingatkan, periode lima tahun ke depan sangat menentukan bagi prospek industri nasional, karena pada tahun 2020 perekonomian nasional mau tidak mau sudah harus menghadapi berlakunya pasar bebas secara penuh baik di tingkat regional ASEAN (AFTA) maupun di tingkat global WTO.
"Tanpa ada perbaikan yang berarti dalam arah kebijakan, industri nasional akan semakin terpuruk dan kehilangan daya saing, dan pasar nasional akan kian dibanjiri produk-produk impor," kata Thomas. (dnl/dnl)











































