Β
Menurut Managing Director Rajawali Corporation Darjoto Setyawan, saat ini perseroan sedang melakukan kajian pembelian tambang itu dengan melihat kebutuhan pasokan perseroan.
Β
"BHP Biliton kita lagi lihat, sudah ada proses. Saat ini sudah 25 perusahaan berniat memasukkan aplikasi ke BHP. Kita salah satu yang akan melakukan penawaran," katanya usai menghadiri serah terima jabatan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Kantor Kementerian Negara BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (22/10/2009)
Β
Ia mengatakan, perseroan berencana membeli tambang tersebut tanpa menggandeng pihak lain, atau tidak akan membentuk konsorsium. Menurutnya, arus kas Rajawali masih mencukupi untuk melakukan pembelian tanpa bantuan dari pihak lain.
Β
"Sementara tidak (konsorsium), masih sendiri dulu. Dana pokoknya siap, dari internal," tukasnya.
Β
Namun begitu, jika ternyata kekurangan dana, perseroan sudah siap untuk mencari dana dari pihak lain. Sayangnya, ia enggan menyebutkan sumber dana yang bakal dijajaki nanti.
Ia menambahkan, selain tambang milik BHP, Rajawali juga sedang mengincar lima perusahaan tambang batubara lainnya. Sedangkan satu tambang emas milik PT MSN di Manado sudah dikuasai kepemilikan sahamnya sekitar 30 persen.
BHP Billiton sebelumnya menyatakan akan menghentikan seluruh proyeknya di Indonesia dalam beberapa bulan ke depan. 450 karyawan BHP Billiton di Indonesia pun terancam pemutusan hubungan kerja (PHK).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proyek batubara Maruwai terdiri dari tujug Perjanjian karya Pengusahaan Pertambangan batubara (PKP2B). Dari tujuh PKP2B ini, BHP Biliton sedang membangun Tambang Haju (PT Lahai Coal), dan melakukan kajian kelayakan apda blok Lampunut (PT Maruwai Coal) dalam rangka penyelidikan pengembangan tambang terbuka batubara.
(ang/qom)











































