"Kami akan usulkan hal itu kepada Departemen ESDM dan Departemen Keuangan," ujar anggota komite BPH Migas Adi Subagyo saat dihubungi, Jumat (30/10/2009).
Adi memperkirakan konsumsi Premium bersubsidi hingga akhir tahun 2009 akan mencapai 20,854 juta kiloliter atau berlebih 1,410 juta kiloliter (7,25 persen)
dibandingkan kuota APBN Perubahan 2009 sebesar 19,444 juta kiloliter.
Sementara untuk konsumsi minyak tanah sampai akhir tahun diperkirakan hanya mencapai 4,943 juta kiloliter atau 14,85 persen di bawah kuota APBN-P 2009 sebesar 5,805 juta kiloliter. Penurunan konsumsi minyak tanah tersebut sebagai dampak dari keberhasilan program konversi.
"Jika ingin alokasi subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang ditetapkan dalam APBN-P 2009 sebesar Rp 54,3 triliun tidak berlebih, maka alokasi subsidi untuk minyak tanah dialihkan ke premium," jelasnya.
Sebelumnya, Kepala BPH Migas, Tubagus Haryono menyatakan Kenaikan konsumsi premium diperkirakan cukup signifikan akibat mobil bertambah 430 ribu unit sedang motor mencapai 4,6 juta.
Kenaikan konsumsi jenis BBM tersebut, lanjut Tubagus, juga disebabkan dengan banyaknya pengguna Pertamax (BBM non subsidi) yang beralih kembali menggunakan Premium. Adanya penurunan konsumsi Pertamax karena disparitas harga BBM bersubsidi dengan non subsidi cukup besar.
"Kegiatan Pemilu juga menyedot BBM subsidi," ujar Tubagus dalam pesan singkatnya.
Adapun realisasi konsumsi Premium hingga bulan Oktober diperkirakan mencapai 17.162.976 KL atau 88,27% dari kuota BBM dalam APBN-P 2009.
Untuk konsumsi kerosin (minyak tanah) diprediksikan mencapai 3.967.590 Kiloliter atau 68,35% dari kuota BBM bersubsidi tahun ini. Sementara konsumsi solar sekitar 30.851.746 KL atau 83,71% dari kuota BBM bersubsidi dalam APBN-P 2009.
Adapun kuota BBM bersubsidi untuk tahun 2009 yaitu premium sebesar 19.444.354 kiloliter, kerosin sekitar 5.804.911 kiloliter dan solar sebesar 11.605.183 kiloliter.
(epi/dnl)











































