"Jatah Shell kita serahkan kepada Pertamina," ujar Kepala BPH Migas Tubagus Haryono di Gedung Departemen ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (4/11/2009).
Menurut Tubagus, keputusan tersebut diambil karena dari dilihat segi infrastruktur penyaluran BBM, BUMN Migas tersebut dinilai yang paling siap.
"Kita memiliki data setiap agen penyalur minyak dan solar (APMS) per harinya mampu menyalurkan berapa. Tidak mungkin mereka kita kasih beban untuk menyalurkan 15.000 kiloliter (KL) per hari kalau kemampuan mereka terbatas," jelas Tubagus.
Tubagus menjelaskan, gugurnya Shell sebagai salah satu calon pendamping Pertamina tersebut karena hingga tenggat hingga 26 Oktober Shell belum memberikan pernyataan tertulis tentang kesanggupan mereka menyalurkan bahan bakar itu dan membangun infrastruktur yang diperlukan.
Bahkan perusahaan migas asal Belanda tersebut, meminta perpanjangan penundaan hak menjawab hingga 4 November 2009.
"Sebenarnya pada Senin (2/11/2009) sore, mereka mengirimkan surat kesiapan mereka, tapi saya sudah diskualifikasi mereka dan saya harus konsisten pada keputusan yang diambil," ungkapnya.
Meskipun begitu, Tubagus menegaskan pihaknya akan memberi kesempatan kepada PT Shell Indonesia untuk ikut terlibat dalam tender distributor BBM bersubsidi tahun 2011.
"Kami tetap akan memberikan kesempatan kepada siapapun yang ingin ikut tender," ungkapnya.
Seperti diketahui, pada 20 Oktober lalu, BPH Migas telah menetapkan Shell, Petronas, dan Aneka Kimia Raya Corporindo (AKR) menjadi calon pendamping Pertamina dalam pendistribusian BBM bersubsidi tahun depan.
Rencananya AKR akan menyalurkan 109.162 KL untuk wilayah Medan, Deli Serdang, Binjai, Lampung Tengah, Utara dan Selatan serta Pontianak dan Banjarmasin. Sementara Petronas dan Shell di wilayah Medan dengan kuota masing-masing 20.440 KL dan 5.110 KL.
(epi/dnl)











































