Ledakan ini diduga disebabkan oleh meningkatnya dielectric lossses dan thermal instabilit y karena temperatur trafo yang cukup tinggi yaitu 98 derajat celcius.
Menurut Ahli Peneliti Utama BPPT Hamzah Hilal, peningkatan dielectric losses dan thermal instability ini mempengaruhi konduktor bushing yang akan menurunkan kapasitas isolasinya sehingga terjadi pemanasan di dalam bushing .
"Temperatur Trafo yang tinggi ini disebabkan oleh pembebanan pada trafo di GITET Cawang yang mencapai 90 persen dari kapasitasnya dalam waktu yang lama secara terus menerus sepanjang hari," ungkap Hamzah di Gedung BPPT, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (5/11/2009).
Hamzah menyatakan pemanasan yang disebabkan oleh dielectric losse s dan thermal instability ini akan memuaikan seal yang menyebabkan minyak trafo merembes ke atas, dan mengakibatkan pemanasan lebih besar karena minyak bercampur dengan gas sehingga terjadi ledakan pada bushing.
"Ledakan bushing ini mengakibatkan kebocoran minyak lebih parah karena posisi tangki minyak berada di atas sehingga menimbulkan kebakaran lebih besar," jelas Hamzah.
Menurut dia, ledakan ini juga menyebabkan konduktor Gas Insulated Line (GIL) lepas dan menyentuh bodi sehingga terjadi hubungan singkat fasa satu ke tanah. "Kebakaran ini mengakibatkan ledakan-ledakan pada komponen lainnya seperti bushing netral sekunder dan arrester," paparnya.
Berdasarkan hasil audit tersebut, imbuh Hamzah, BPPT memberikan rekomendasi untuk dilakukan audit teknologi pada 4 GITET lainnya yang memasok listrik ke wilayah Jakarta yaitu GITET Gandul, Kembangan, Bekasi dan Depok. Hal ini dilakukan agar peristiwa ini tidak terulang lagi.
"Audit ini tidak hanya kepada 5 GITETdi Jakarta tapi juga seluruh GITET di wilayah Jawa Bali," ungkapnya.
Sementara khusus untuk Gardu Induk Cawang diperlukan paling sedikit satu trafo dengan kapasitas 500 MVA. Satu unit ini berfungsi untuk menurunkan pembebanan pada trafo yang ada pada saat ini sehingga masing-masing akan memikul maksimum 60 persen beban. Tidak seperti kondisi saat ini dimana trafo dibebani hingga 94 persen dari kapasitasnya (384 MW).
"Namun idealnya diperlukan trafo satu unit lagi yang berfungsi sebagai cadangan sehingga pemeliharaan dapat dilakukan sesuai SOP (Standard Operation and Procedure )," tandasnya.
(epi/dnl)











































