Pemerintah Berambisi Produksi 5,6 Juta Ton Gula

Pemerintah Berambisi Produksi 5,6 Juta Ton Gula

- detikFinance
Jumat, 06 Nov 2009 15:13 WIB
Pemerintah Berambisi Produksi 5,6 Juta Ton Gula
Jakarta - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menargetkan produksi gula sebesar 5,6 juta ton per tahun untuk gula konsumsi dan 3,3 juta ton per tahun untuk gula industri di tahun 2025.

Target ini akan mulai dikejar dengan revitalisasi dan pembangunan pabrik baru mulai tahun depan.

Menurut Menteri Negara BUMN Mustafa Abubakar, dari rencana revitalisasi 11 pabrik gula, yang sudah masuk ke dalam rencana tahun ini dan tahun 2010 ada sekitar 4 pabrik.

"Tahun ini gula konsumsi sudah terpenuhi tapi yang industri belum. Maka dari itu kita akan lakukan revitalisasi," katanya di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (6/11/2009).

Ia mengatakan, dalam realisasinya pemerintah membutuhkan lahan seluas kurang lebih 400.000 hektar. Menurutnya, banyak lahan potensial yang bisa digarap, antara lain di sekitar Jawa Timur, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tenggara, dan Papua.

Saat ini, kapasitas produksi gula konsumsi baru sebanyak 2,7 juta ton per tahun oleh 7 pabrik gula milik negara. Sementara gula industri sebanyak 2,1 juta ton per tahun disumbang oleh 7 pabrik BUMN dan 7 pabrik milik swasta.

Selain gula, pemerintah juga berencana merevitalisasi sejumlah pabrik pupuk dalam rangka ketahanan pangan. Menurutnya, masalah di industri pupuk tidak sebesar industri gula, yang menjadi masalah hanya pasokan gas untuk kegiatan operasional pabriknya.

"Nanti kita akan ketemu dengan BP Migas untuk masalah pasokan gas. Ketersediaan ini menjadi penentu ekspansi pabrik pupuk," katanya.

Pemerintah menilai, sampai saat ini sudah ada 5 pabrik pupuk yang berpotensi dikembangkan, bahkan salah satunya sudah mulai dikembangkan di Kalimantan Timur.

"Target di 2014 sudah selesai, tapi dalam waktu dekat ini sampai tahun depan dua saja dulu. Tapi kalau nilainya belum bisa disampaikan, tunggu penghitungan lebih
lanjut," ujarnya.

(ang/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads