"Biaya untuk LNG floating terminalnya saja US$ 9 miliar. Totalnya US$ 14 miliar (awalnya US$ 19 miliar), tapi itu bisa naik-turun," ujar Kepala BP Migas R Priyono di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (9/11/2009).
Menurut Priyono, keputusan penggunaan LNG Floating terminal berdasarkan pada Plan Of Development (PoD) yang sudah diteken oleh Menteri ESDM.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, mengingat besarnya proyek tersebut maka BP Migas menggunakan konsultan independen untuk melihat mana yang terbaik.
"Walaupun rekomendasi kami sudah floating. Jadi kalau hasil kajian lebih baik dibangun di darat maka akan dibangun ke darat. Ini semua nantinya dilihat dari multiplier effect dan keekonomiannya," ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Karen Agustiawan menyatakan Pertamina masih berminat untuk masuk ke Blok yang berada di laut Timor tersebut. Untuk tahap awal Pertamina mengincar 10 persen di blok itu.
"Kami sudah kirimkan surat kepada pemerintah mengenai keinginan kami untuk memiliki saham di blok Masela tapi masih belum ada jawaban. Awalnya 10 persen tapi mungkin ke depannya akan bertambah," ungkapnya.
Karen menambahkan dalam waktu dekat Pertamina juga akan mengakusisi 30 persen saham di blok Hanoi Trough Oil, Vietnam.
"Sekarang sudah di tahap akhir tapi saya tidak dapat menyampaikan berapa harganya sebelum prosesnya selesai. Mudah-mudahan tahun ini juga," tegasnya.
(epi/qom)










































