Pada perdagangan Senin (9/11/2009) di London Bullion Market, harga emas sempat menembus US$ 1.111,20 per ounce sebelum akhirnya ditutup di US$ 1.106,75 per ounce,Β naik dari penutupan akhir pekan lalu di US$ 1.096,75.
Lonjakan harga emas terjadi akibat dolar AS merosot menyusul pengambilan risiko setelah G20 memutuskan untuk mempertahankan kebijakan stimulusnya guna mendukung pemulihan ekonomi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Emas mempertahankan dirinya di atas level psikologis US$ 1.100 pagi ini setelah para menteri G20 memutuskan mempertahankan kebijakan stimulusnya," jelas James Moore, analis dari TheBullionDesk.com seperti dikutip dari AFP, Selasa (10/11/2009).
Pekan lalu Bank Sentral AS juga memutuskan untuk memperpanjang suku bunga rendahnya untuk jangka waktu yang lama dan mempertahankan kebijakan stimulus fiskalnya.
"Kecuali suku bunga AS berbalik arah, emas akan terus diburu," jelas Ronald Leung, direktor Lee Cheong Gold Dealers.
Selain harga emas, komoditas yang juga naik adalah minyak mentah dunia. Selain akibat melemahnya dolar AS, harga minyak juga melonjak akibat munculnya badai Ida yang dikhawatirkan merusak fasilitas perminyakan di Teluk Meksiko.
Kontrak utama minyak light sweet pengiriman Desember naik hingga 2 dolar menjadi US$ 79,43 per barel. Minyak Brent pengiriman Desember naik 1,90 dolar menjadi US$ 77,77 per barel.
(qom/qom)











































