Menurut Kepala BP Migas R Priyono, hambatan utama yang menyebabkan target ini tidak dapat dipenuhi yaitu Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) mengalami kesulitan finansial dan keterbatasan rig yang sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan terutama untuk kegiatan eksplorasi di dasar laut (offshore).
"Kendala lainnya yaitu kesulitan didalam proses perijinan dan pembebasan lahan serta munculnya tumpang tindih lahan dengan kehutanan dan perhutani," kata Priyono dalam rapat dengar pendapat di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (10/11/2009).
Terkait realisasi rata-rata produksi minyak mulai Januari hingga Oktober, Priyono menyatakan, masih belum mencapai target dalam APBN-P tahun 2009. Saat ini realisasi produksi telah mencapai 948.670 barel per hari atau 98,82 persen dari target sekitar 960.000 barel per hari.
Priyono menjelaskan, pihaknya akan terus berupaya untuk melakukan berbagai langkah optimalisasi produksi dari lapangan-lapangan yang dikelola oleh 43 Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS).
Langkah-langkah yang akan diambil diantaranya mempercepat pelaksanaan pemboran sumur pengembangan terhadap lapangan yang Plan Of Developmentnya sudah disetujui, melakukan kajian-kajian subsurface yang lebih baik untuk menghindari kegagalan pemboran sumur-sumur pengembangan, implementasi pengurasan tahap lanjut (Enhanced Oil Recovery (EOR), misalnya Duri Steam Flood, Pertamina Tanjung dan lain-lain. Melakukan pekerjaan workover dan perawatan sumur yang lebih agresif seperti di PT Pertamina EP, BOB, JOB P-Petrochina salawati, Kondur Petroleum.
"Serta melakukan suatu program perawatan (maintenance) yang lebih baik agar reability fasilitas produksi dapat ditingkatkan," paparnya.
(epi/dro)











































