Demikian hal itu dikemukakan oleh Direktur Pembangkit Jawa Bali Murtaqi Syamsuddin di kantor Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (10/11/2009).
Menurutnya, pembelian trafo tersebut membutuhkan dana sekitar Rp 5,6 triliun. Sebanyak Rp 3 triliun dari dana tersebut sudah didapat perusahaan pelat merah itu dari komitmen kredit ekspor dari China.
Perseroan sendiri sudah mengalokasikan dana sebanyak Rp 800 miliar dari kas internalnya. "Sisanya kita akan mencairkan dari perbankan dan lembaga multirateral," katanya.
Trafo tersebut akan digunakan supaya kapasitas di Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) Bekasi, Cawang, Gandul dan Kembangan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Jakarta dan sekitarnya.
(ang/dnl)










































