Hal ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Terigu Indonesia (Aptindo) yang juga anggota Kadin Ratna Sari Loppies dalam acara rapat dengar pendapat (RDP) dengan komisi VI di Gedung DPR-RI, Senayan, Jakarta, Rabu (11/11/2009).
"Saya perkirakan kebutuhan gandum mencapai 10 juta ton selama 10 tahun ke depan, sekarang ini masih 5 juta ton per tahun," katanya.
Ratna mengakui saat ini kebutuhan gandum di dalam negeri 100% masih diimpor. Jika masalah ini tidak segara dipecahkan maka Indonesia berpeluang menjadi negara pengimpor gandum terbesar mengingat tren kebutuhan permintaan terigu sebagai produk turunan gandum terus meningkat setiap tahunnya.
Tingginya impor ini akan menggerogoti devisa Indonesia, akibat suplai gandum yang tidak dapat dipenuhi di dalam negeri. Selama ini gandum dianggap hanya tumbuh baik di iklim subtropis.
"Selama 10 tahun terakhir kita telah mengembangkan gandum tropis. Sebenarnya gandum bisa ditanam di Indonesia (tropis)," katanya.
Menurut Ratna, ia menyayangkan saat ini pemerintah khususnya Departemen Pertanian enggan mengembangkan produksi gandum di Indonesia. Alokasi anggaran pemerintah untuk pengembangan gandum tropis di Indonesia masih nihil.
"Gandum harus menjadi perhatian, agar 100% tidak impor. Gandum bisa di tanam di Indonesia. Di zaman Belanda pun bisa ditanam," katanya.
(hen/dnl)











































