Β
Hal yang paling utama dalam membenahi industri dalam negeri adalah meningkatkan daya saing industri dalam negeri yang selama ini terhadang masalah infrastruktur seperti ketersedian listrik, pelabuhan, jalan dan lain-lain.
Β
"Jadi pekerjaan rumahnya gede banget," katanya saat ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (17/11/2009).
Β
Masalah daya saing ini, lanjut Hidayat, akan terhubung langsung dengan kesiapan industri nasional dalam menghadapi perdagangan bebas atau free trade agreement (FTA). Yaitu persaingan antara produk dalam negeri dengan produk impor.
Β
"FTA itu memang tidak bisa dihindari, kita memang mengikuti arus, kita salah satu dari negara ASEAN. Kalau anggota ASEAN menghendaki FTA dengan negara lain, kita harus mengikuti," katanya.
Β
Seharusnya kata dia, sebelum ada kesepakatan FTA dengan ASEAN maupun negara lain, masalah daya saing harus dibenahi. Sehingga ketakutan dunia usaha yang selama ini disuarakan tidak terjadi.
Β
Ia mencontohkan daya saing Indonesia masih lemah terutama dengan negara industri besar seperti China misalnya dalam produk tekstil dan garmen. Dimana produk-produk China menawarkan harga super murah dengan kualitas lumayan.
Β
"Kita tidak memaksakan masyarakat membeli produksi nasional, tapi harganya lebih mahal. Jadi kita tidak bisa memaksakan. Itu namanya daya saing," katanya.
(hen/qom)











































