"Banyak yang harus dibenahi untuk menjadi raksasa tekstil dunia," kata Menteri Perindustrian MS Hidayat dalam acara konferensi tekstil nasional di Hotel Atlet Century, Jakarta, Rabu (18/11/2009).
Menurut Hidayat, untuk mencapai hal itu banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi seperti masalah pengembangan lembaga penelitian tekstil, sistem pasar tujuan ekspor yang harus dipahami, memahami perubahan mode dan iklim, termasuk pola konsumsi pasar ekspor, kemandirian bahan baku, meningkatkan pasar dalam negeri dan lain-lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Maunya tahun 2014, sebelum saya turun ini sudah menjadi raksasa," katanya.
Sampai saat ini, industri TPT masih menjadi industri andalan yang telah menyerap tenaga kerja hingga 1.841.520 orang atau sebesar 15% dari tenaga kerja sektor manufaktur. Dari kinerja ekspor pada tahun 2008 lalu telah mencapai US$ 10 miliar lebih.
Hidayat juga mengatakan, sekarang ini Indonesia tengah mengembangkan serat-serat tekstil inovatif seperti serat rami, serat nanas dalam rangka kemandirian bahan baku. Bahkan, produksi kapas dalam negeri perlahan-lahan akan terus ditingkatkan.
Berdasarkan data Departemen Pertanian, produktivitas kapas nasional mulai meningkat dari 1,2 ton per hektar pada 2005 menjadi 4-6 ton per hektar. Sehingga, ketergantungan impor kapas sebanyak 99,5% saat ini secara perlahan-lahan bisa dikurangi.
"Jika pemenuhan kapas dihasilkan di dalam negeri, maka semakin mantaplah industri TPT, bahkan sangat mungkin kita jadi raksasa tekstil dunia," katanya.
Meskipun begitu, sampai saat ini masih banyak negara industri TPT di dunia yang melakukan praktek perdagangan tidak fair seperti praktek transhipment, penyelundupan dan dumping. Sehingga hal-hal semacam ini harus diwaspadai agar daya saing industri TPT nasional tetap baik. (hen/ang)











































