Selama ini program restrukturisasi mesin TPT sudah bergulir selama 3 tahun sejak 2007 dengan menggunakan dua skema yang intinya memberikan subsidi bunga dan potongan harga pembelian mesin baru (subsidi) bagi industri TPT yang meremajakan mesin-mesinnya.
"Kalau orang terus diberikan (subsidi) mesin-mesin terus nggak bener dong. Jadi sampai tahun 2012," kata Direktur Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Departemen Perindustrian Aryanto Sagala saat ditemui di konferensi tekstil nasional di Hotel Atlet Century, Jakarta, Rabu (18/11/2009).
Meskipun ia mengatakan hal tersebut akan sangat tergantung dengan kebutuhan selanjutnya, namun untuk tahun depan dipastikan program restrukturisasi mesin 2010 akan tetap digulirkan.
"Program serupa di India sampai tahun 2012. Kita juga awalnya maunya hanya 3 tahun saja (sejak 2007), ya paling lama 5 tahun (2012)," katanya.
Program restrukturisasi mesin TPT telah dimulai sejak tahun 2007. Pada waktu itu dari 103 perusahaan TPT yang mendaftar, sebanyak 92 perusahaan memenuhi persyaratan. Pada tahun 2008 lalu dari 191 perusahaan yang mendaftar hanya 175 perusahaan yang memenuhi persyaratan.
Sedangkan pada tahun 2009 ini, setidaknya ada 210 perusanan peserta program restrukturisasi dengan target investasi sebesar Rp 1,85 triliun, namun sampai pertengahan Oktober hanya 186 perusahaan saja yang dipastikan ikut yang siap merealisasikan investasinya membeli mesin TPT baru.
Restrukturisasi Mesin Tekstil Dipangkas Rp 100 Miliar Tahun Depan
Mengaca dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya dari serapan dana program restrukturisasi mesin untuk sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) masih rendah.
Akhirnya pemerintah pada tahun 2010 nanti hanya akan menganggarkan dana program tersebut sebesar Rp 140 miliar. Padahal tahun ini pemerintah melalui departemen perindustrian menyediakan dana Rp 240 miliar.
"Tahun depan akan dilanjutkan, tapi kita turunkan lagi jadi Rp 140 miliar tahun depan. Kita sudah punya pengalaman, makanya kita tak mau keceblos lobang yang sama," kata Direktur TPT Departemen Perindustrian Aryanto Sagala saat ditemui konferensi tekstil nasional di Hotel Atlet Century, Rabu (18/11/2009).
Pengurangan ini, lanjut Aryanto, bukan hanya masalah serapan yang rendah namun memperhitungkan program-program sejenis untuk sektor lain seperti industri kulit, industri alas kaki, industri pupuk dan industri gula pada tahun depan. (hen/dnl)











































