"Ini sangat-sangat buruk. Kita tawarkan 17 area. Dari 60 dokumen yang dibeli, hanya satu yang dikembalikan dan memenuhi syarat sebagai pemenang yaitu PT Brilliance Energy, WK Sula I ," ujar Dirjen Migas Evita Herawati Legowo di Gedung Plaza Centris, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Rabu (25/11/2009).
Kondisi yang sama juga terjadi dalam lelang penawaran langsung WK migas Tahap I 2009, dimana dari 7 wilayah kerja eksplorasi yang ditawarkan, hanya dua WK yang diminati investor.
Kedua perusahaan tersebut yaitu PT Sele Raya untuk WK Blora dan WK North Makasar Strait dimenangkan oleh Konsorsium PT Barunan Nusantara Energy-Niko Resources Ltd.
"Dari 7 yang kami tawarkan untuk joint study , lima dokumen yang dikembalikan, namun hanya dua memenuhi syarat," ungkapnya.
Evita mengakui, salah satu faktor rendahnya minat investor dalam lelang penawaran WK migas yaitu belum terbitnya PP Cost Recovery . "Ini supaya kasih kepastian kepada investor apa-apa saja yang diatur dalam cost recovery ," ungkapnya.
Faktor lainnya yaitu adanya UU lingkungan yang membuat para investor lebih berhati-hati. Kehadiran UU ini dianggap memberatkan para investor yang bergerak di sektor migas. "Nanti mungkin PP-nya diatur secara rinci agar tidak bikin takut investor," tandasnya.
Evita memaparkan, komitmen pasti eksplorasi dari tiga pemenang tersebut untuk tiga tahun masa eksplorasi berupa studi geologi dan geofisika sebesar US$ 6,9 juta, survei seismik 2D sepanjang 1.000 kilometer sebesar US$ 1,5 juta.
Survei seismik 3D seluas 250 km2 sebesar US$ 3,75 juta dan pemboran sumur eksplorasi dengan nilai investasi sebesar US$ 22,5 juta sehingga total investasi komitmen eksplorasi adalah sebesar US$ 34,7 juta.
"Sedangkan bonus tandatangan yang akan diterima langsung oleh pemerintah US$ 3,25 juta," ungkapnya.
(epi/dnl)











































