Hal itu disampaikan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Provinsi Kaltim, Yadi Sabiannor, ketika berbincang dengan detikFinance melalui telepon, Sabtu (28/11/2009).
''Selain batubara, negara-negara itu juga berminat mengimpor produk unggulan lain dari Kaltim,'' kata Yadi.
Permintaan batubara dari Kaltim kian tumbuh seiring dengan operasional sejumlah perusahaan batubara ternama seperti PT Kaltim Prima Coal (KPC) di Sengatta Kabupaten Kutai Timur, PT Kideco Jaya Agung di Kabupaten Pasir, serta PT Berau Coal di Kabupaten Berau.
Negara lainnya yang juga mengimpor batubara dari Kaltim adalah Jepang. Kendati begitu, sambung Yadi, Jepang masih menjadi tujuan pemasaran hasil laut seperti udang beku serta kayu dari Kaltim.
''Karena nyatanya, Jepang lebih menyukai produk hasil laut dan kerajinan lain dari Kaltim ketimbang batubara,'' ujar Yadi.
Upaya untuk meningkatkan mutu produk tersebut dibanding negara lain agar tetap memiliki nilai jual tinggi di negara pengimpor, tahun 2010 mendatang 2 bank di Kaltim ditunjuk pemerintah sebagai Lembaga Pengelola Dana Bergulir bagi koperasi dan unit UMKM. Kedua bank itu adalah Bank Kaltim yang dahulu bernama Bank Pembangunan Daerah (BPD) Kaltim yang mendapat memperoleh Rp 6,6 Miliar, serta Bank Bukopin sebesar Rp 1,1 Miliar.
Kebijakan tersebut sudah disosialisasikan saat pemerintah menggelar Rakernas Disperindagkop se-Indonesia di Jakarta, sepekan yang lalu.
''Aturannya memang begitu.Yang menyalurkan dana bergulir adalah bank,'' tambah Yadi.
Tidak hanya itu,pemerintah juga memutuskan akan menggelar berbagai kegiatan pelatihan pengembangan koperasi dan UMKM hingga ke daerah, termasuk sertifikasi pengelola, dan anggota koperasi dan UMKM.
''Ini termasuk dalam program 100 hari Presiden. Tujuannya produk nasional tetap memiliki nilai tambah bagi negara-negara pengimpor,'' tutup Yadi.
(dnl/dnl)











































