BPS : Inflasi 2009 Paling Tinggi 3,5 Persen

BPS : Inflasi 2009 Paling Tinggi 3,5 Persen

- detikFinance
Minggu, 29 Nov 2009 11:38 WIB
BPS : Inflasi 2009 Paling Tinggi 3,5 Persen
Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan angka inflasi tahun 2009 paling tinggi berada di level 3,5 %. Hal ini terjadi karena pemerintah tidak membuat kebijakan yang menyebabkan pricing shock seperti menaikkan Tarif Dasar Lsitrik (TDL) atau Bahan Bakar Minyak (BBM) sepanjang tahun ini.

"3,5 % itu terlalu pesimis. Optimisnya di bawah itu, tapi tetap di atas 3 %," ujar Kepala BPS Rusman Heriawan saat berbincang dengan detikFinance, Minggu (29/11/2009).

Menurut Rusman, adanya kecenderungan inflasi di level 3,5 % karena hari raya Idul Fitri pada September lalu tidak memberikan dampak yang luar biasa pada kenaikan harga, sehingga angka inflasi bulan tersebut hanya berada di kisaran 1,05 %. Faktor lainnya yaitu, pemerintah tidak mengeluarkan kebijakan menyebabkan pricing shock seperti kenaikan TDL dan BBM.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Elpiji ukuran 12 Kg dan tarif tol tahun ini memang naik, tapi tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap inflasi," jelas dia.

Apalagi pada bulan November ini, ia memperkirakan akan terjadi deflasi. Menurut dia, libur hari raya Idul Adha tidak memberikan dampak yang berarti terhadap harga kebutuhan pokok dan juga transaksi di pasar.

"Untuk November potensi deflasi masih ada, kalaupun inflasi terjadi itu kecil."

Sementara untuk bulan Desember, adanya hari raya natal dan tahun baru diduga juga tidak akan memberikan tekanan yang besar terhadap inflasi tahun ini.

"Tren harga memang naik, tapi tidak ada tekanan yang signifikan terhadap angka inflasi," ungkap dia.

Menurut Rusman, yang harus diwaspadai justru angka inflasi tahun depan. Sebab pulihnya ekonomi dunia diperkirakan akan mengakibatkan adanya peningkatan permintaan dunia, sehingga berdampak terhadap harga di pasar dunia.

"Itu berarti barang impor yang kita butuhkan harganya akan naik, sehingga akan terjadi imported inflation," katanya.

Pulihnya ekonomi dunia, juga menyebabkan pertumbuhan ekonomi akan mengalami peningkatan. Di Indonesia sendiri, pertumbuhan ekonomi tahun depan diperkirakan sekitar 5,5 % sehingga ini akan menyebabkan investasi meningkat, permintaan meningkat, dan harga pun naik.  Untuk itu, hal yang harus dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi hal ini adalah menjaga suplai dan distribusi kebutuhan bahan pokok di dalam negeri.

"Asal suplai  dan distribusi bahan pokok dan kebutuhan lainnya seperti cabai, bawang merah dan sebagainya bagus, maka itu membantu menahan angka inflasi," tandas dia.
(epi/wep)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads