BUMN Diminta Stop Ekspansi ke Timur Tengah

BUMN Diminta Stop Ekspansi ke Timur Tengah

- detikFinance
Senin, 30 Nov 2009 13:46 WIB
BUMN Diminta Stop Ekspansi ke Timur Tengah
Jakarta - Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) meminta sejumlah perusahaan pelat merah, terutama BUMN karya (infrastruktur) untuk menahan sementara ekspansi yang akan dilakukan dengan perusahaan Timur Tengah, terutama Dubai.
 
Menurut Sekretaris Kementerian Negara BUMN M. Said Didu, selama ini banyak BUMN yang sedang menjajaki kerjasama dengan perusahaan Timur Tengah, untungnya belum sampai tahap penandatanganan.
 
"Sementara kita instruksikan hold dulu ekspansi ke Timur Tengah. Selama ini mereka kan masih lihat-lihat," katanya usai raker bersama Komisi VI DPR di Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Senin (30/11/2009).
 
Menurutnya, permintaan ini dilakukan menyusul terjadinya kasus gagal bayar surat utang yang diderita oleh Dubai World. Said mengatakan, saat ini memang sudah ada beberapa BUMN yang bekerjasama dengan Dubai World.
 
"Tapi enggak masalah itu, perusahaan kecil kok, proyeknya juga enggak gede," katanya.
 
Namun sayangnya, ia tidak merinci BUMN mana saja yang terlibat kerjasama dengan Dubai World. Meski demikian, ia percaya keputusan direksi BUMN tidak akan mengecewakan.
 
"Sekarang kan itu sudah B to B (business to business ), jadi pasti lihat resikonya. Enggak mungkin direksi ngambil keputusan di situasi kayak gini," ungkapnya.
 
Said menambahkan, saat ini, BUMN lebih baik memfokuskan diri berinvestasi di dalam negeri ketimbang mencari partner perusahaan asing. "Di dalam negeri juga masih banyak proyek. Kenapa harus cari kerjasama dengan luar negeri," tambahnya.
 
Sebelumnya, Deputi Kementerian Negara BUMN Bidang Logistik dan Pariwisata Harry Susetyo Nugroho mengatakan, salah satu kerjasama yang dilakukan adalah Dubai Ports World bersama Pelindo III membentuk perusahaan patungan PT Terminal Petikemas Surabaya dengan investasi US$ 175 juta.
 
Lainnya lagi, Emaar Properties bekerjasama dengan Bali Tourism Development Corporation mengembangkan kawasan wisata di Lombok dengan nilai investasi US$ 600 juta.
 
Sebelumnya, Dubai World mengumumkan kondisi gagal bayar atas sebagian obligasinya yang jatuh tempo. Dubai World tercatat memiliki kewajiban hingga US$ 59 miliar, atau menguasai sebagian besar dari total utang Dubai yang mencapai US$ 80 miliar.
 
Pemerintah Dubai mengumumkan telah menunjuk konsultan Deloitte untuk membantu restrukturisasi utang obligasi tersebut.
 
Gagal bayar atas surat utang Dubai World tersebut diperkirakan bisa memicu krisis global jilid II jika tidak ditangani dengan segera. Dubai bakal menjadi negara kedua setelah Amerika Serikat yang menjadi pemicu krisis ekonomi dunia.

(ang/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads