Salah satunya penyebab turunnya harga produk plastik kemasan tersebut antara lain adanya penurunan bea masuk bahan baku produk plastik hingga 0% dari sebelumnya 5%.
Gabungan Industri Aneka Tenun Plastik Indonesia (GIATPI) menyambut baiknya diberlakukannya AFTA tahun 2010 nanti, karena setidaknya beban biaya masuk bahan baku plastik yang selama ini diimpor dari negara-negara ASEAN dengan di dalam negeri bisa lebih bersaing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan, saat ini impor bahan baku plastik lebih banyak berasal dari negara-negara ASEAN 80%, sedangkan sisanya 20% berasal dari India, Timur Tengah dan Korea. "Dengan turunnya 5% saja itu sudah lumayan bagi kami," katanya.
Selama ini, impor bahan baku plastik polypropiline (PP) pertahunnya mencapai 325.000 ton sedangkan yang dipasok dari dalam negeri 525.000. Untuk impor polyetiline (PE) per tahun mencapai 250.000 ton.
"Tapi kami tetap berupaya agar produksi dalam negeri terserap semua," katanya.
Namun, ia mengharapkan produsen bahan baku plastik (industri hulu) tidak berpatokan pada basis harga ASEAN, tapi harus memiliki basis perhitungan sendiri agar lebih kompetitif, dalam menghadapi CEPT AFTA 2010.
"Kita harapkan dengan adanya ini ada kenaikan 2-3% utilisasi dari yang hanya 80%, mungkin bisa rata-rata 85%," katanya.
Mengenai persaingan secara nyata, dijelaskannya sudah terjadi di sektor hilir setidaknya sejak tahun 2009 ini. Ia mencontohkan untuk produk regional ASEAN bea masuk impor karung plastik sudah 0%. Artinya sektor hulu plastik hilir sudah merasakan tarif 0% diproduk jadinya.
"Karung plastik regional ASEAN saja sudah 0%, sementara bahan baku masih 5%, dimana pun mungkin cuma kita saja yang seperti ini," katanya.
Yang terpenting saat ini kata dia, produsen bahan baku plastik hulu mempertimbangkan harga jual dengan rupiah agar produsen hilir tidak tergerus adanya fluktuasi kurs dollar. Meskipun ia mengakui produsen plastik hulu membeli bahan bakunya dengan dollar AS.
(hen/ang)











































