"Kalau sumber gas yang besar karena itu skalanya besar, menurut UU itu diutamakan untuk ekspor, dimana tentu saja ada sebagian porsi sudah diatur oleh UU untuk domestik," ujar Darwin di Gedung Departemen ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (7/12/2009).
Darwin menilai, saat ini kebutuhan gas di pasar domestik masih terbatas sementara cadangan di Blok Natuna D Alpha sangat besar sehingga ekspor menjadi opsi yang tak dapat dihindari.
"Pasar domestik itu relatif terbatas untuk skala yang besar dan cultivation -nya memberikan jangka panjang karena itu memerlukan pasar ekspor dan memerlukan jaminan pasar dalam jangka waktu yang panjang di atas 20 atau 25 tahun untuk sampai itu bisa diperpanjang sesuai dengan ketentuan yang berlaku," tuturnya.
Darwin juga meminta Pertamina segera memutuskan calon mitra yang akan membantunya dalam mengelola Blok yang memiliki cadangan gas hingga 46 triliun kaki kubik tersebut.
"Kita jangan terlambat, tapi kita juga tidak boleh menomorduakan langkah-langkah sistematis yang mempertimbangkan faktor strategis," ungkap dia.
Namun, Darwin menyerahkan seluruh proses pemilihan partner tersebut kepada Pertamina dan meminta BUMN migas tersebut memilih partnernya secara obyektif mengingat besarnya cadangan di lapangan itu.
"Saya kira Pertamina nanti akan kita dorong untuk membuat skema atau skenario untuk mendapatkan mitra yang paling baik,"papar dia.
Seperti diketahui, blok Natuna D Alpha memiliki cadangan gas sangat besar yakni hingga 46 triliun kaki kubik, tapi 70 persen cadangan gas itu mengandung CO2. Kandungan CO2 yang tinggi itu membuat pengolahannya memerlukan teknologi yang ekstra.
Adapun delapan perusahaan yang saat ini tengah mengikuti seleksi partner Pertamina adalah ExxonMobil Corp, Total SA, Chevron Corp, StatOil, Royal Dutch/Shell, China National Petroleum Corp. Petronas, dan Eni SpA.
(epi/dnl)











































