Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Yanti Sukamdani saat ditemui di kantor Kadin, Jakarta, Senin (7/12/2009).
Yanti menjelaskan miras umumnya banyak dikonsumsi oleh para turis asing yang memenuhi hotel-hotel dan restoran di Indonesia. Pasokan miras dinilai sangat penting dalam mendukung bisnis dua bidang usaha tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang ada daerah yang kosong, persoalannya adalah pajak," katanya.
Ia telah mendapatkan laporan dari beberapa daerah seperti Bali, Jakarta, Medan dan Surabaya yang para pengusahanya enggan menyetok miras karena dianggap terlalu mahal.
"Banyak yang sekarang yang pusing. Bahkan ada penumpang (turis) garuda yang nggak jadi datang ke Indonesia," katanya.
Dikatakannya, faktor kelangkaan miras khususnya bagi turis asing cukup mempengaruhi dampak kunjungan turis ke Indonesia.
"Bagi orang turis asing miras sudah menjadi kebutuhan mereka," katanya.
Sementara itu konsumen wine yang ditemui detikFinance, mengatakan ia merasakan dampak adanya kelangkaan wine di salah satu bar di Jakarta beberapa akhir ini.
"Pantas, saya waktu cari wine susah, rak-raknya banyak yang kosong," kata sumber tersebut.
(hen/qom)











































