Saat ini industri LHE di dalam negeri tengah memasuki ambang kebangkrutan dengan tingkat pemanfaatan kapasitas produksi (utilisasi) hanya 15% dari total kapasitas 270 juta unit per tahun.
"Utilisasi industri kita sekarang hanya 15%, sudah semakin menurun," kata Ketua Aperlindo John Manoppo saat ditemui di kantor Departemen Perindustrian, Jakarta Senin malam (7/12/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Makanya tahun depan ada FTA dengan ASEAN China, kami minta ditunda, sampai kita kuat. Mungkin 3 tahun, selama 3 tahun kita akan mengisi pasar dalam negeri," katanya.
John menjelaskan berdasarkan data BPS dan Departemen Perdagangan selama tahun 2008 jumlah impor LHE mencapai 95,5 juta unit sedangkan kebutuhan dalam negeri hanya 120 juta unit artinya produk lokal hanya mengisi 24.5 juta unit per tahun.
Sedangkan pada tahun 2009 hingga November jumlah impor LHE telah mencapai 125,96 juta unit dari proyeksi kebutuhan dalam negeri mencapai 160 juta unit. Padahal kapasitas produksi LHE lokal saat ini sudah mencapai 270 juta unit per tahun yang ditopang dari 22 perusahaan.
"Semula Permendag No 56 dianggap efektif mencegah impor, tapi ternyata tidak efektif, karena ada dua HS," katanya.
Dikatakannya pada saat kondisi yang kritis, industri lampu dalam negeri bukan hanya perlu adanya penundaan FTA ASEAN China selama 3 tahun. Namun ia mendesak agar pemerintah merealisasikan ketentuan mengenai peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN) untuk kebutuhan LHE bagi belanja barang dan jasa pemerintah.
"Kita sekarang ini membutuhkan pasar. Salah satunya yang kami inginkan agar PLN supaya membeli LHE untuk program hemat energi. Dulu pernah berjanji PLN akan membeli 51 juta unit tak jadi, coba tahun depan direalisasikan," tegasnya.
(hen/qom)










































