Pemerintah Terlalu Pesimis Pasang Target Pertumbuhan 2010

Pemerintah Terlalu Pesimis Pasang Target Pertumbuhan 2010

- detikFinance
Kamis, 10 Des 2009 18:19 WIB
Pemerintah Terlalu Pesimis Pasang Target Pertumbuhan 2010
Jakarta - Pemerintah dianggap terlalu pesimistis menargetkan laju perekonomian pada tahun depan yang hanya 5,5%. Target tersebut dinilai kurang menunjukan keinginan pemerintah untuk bekerja lebih keras.

Menurut Pengamat Ekonomi Faisal Basri banyak indikator yang menunjukan perbaikan perekonomian global akan terjadi pada 2010, seperti dari sisi ekspor.

"Prediksi saya tahun depan pertumbuhan ekonomi berkisar antara 5,4-5,9%," ujar Faisal pada Seminar Outlook 2010 di Wisma Antara, Jakarta, Kamis (10/12/2009).

Faisal menganjurkan, jika pemerintah bekerja keras sedikit saja dengan merampungkan National Single Window (NSW) dan konsisten mengoperasikan pelabuhan Tanjung Priok 24 jam per hari bersama tiga pelabuhan lainnya, serta memperbaiki produktivitas pelabuhan, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2010 bisa mencapai 6%.

"Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sesuai target, NSW dilaksanakan, pelabuhan Tanjung Priok beroperasi 24 jam, produktivitas di pelabuhan dinaikkan. Kalau itu dilakukan Insya Allah 6% di tangan. Malu dong kalau cuma naik jadi 5,5%," sindir Faisal.

Faisal menambahkan pertumbuhan industri manufaktur tetap diperlukan agar perekonomian nasional tumbuh sehat. Pertumbuhan industri manufaktur harus bisa dinaikkan minimal 3,5-4% pada tahun depan dari posisi sekarang sekitar 1,3%.

Pertumbuhan industri manufaktur ini, salah satunya ditopang Foreign Direct Investasi (FDI). Faisal menghitung, rata-rata kebutuhan investasi per tahun mencapai Rp 2.900 triliun.

Dari jumlah ini, kontribusi perbankan diproyeksikan mencapai Rp 400 triliun sementara sumbangan dari pasar modal dihitung masih ada kekurangan Rp 500 triliun yang harus didatangkan dari luar negeri.

Selama Januari-September, FDI net (bersih) hanya mencapai US$ 1 miliar dan diharapkan pada tahun depan mencapai minimal US$ 10 miliar.

"Jika begini hampir pasti US$ 5 miliar akan masuk ke industri manufaktur," harap Faisal.

(nia/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads