"Kami kalah bersaing karena remunerasi fee per barrel yang kita tawarkan lebih tinggi dari kompetitor," ujar Direktur Usaha Internasional PT Pertamina Hulu Energy, Dwi Martono saat berbincang dengan detikFinance, Senin (14/12/2009).
Dwi mengakui, dalam tender tersebut Pertamina mengincar dua lapangan minyak yaitu West Qurna-2 dan Garraf. Untuk ladang minyak West Qurna-2 yang memiliki cadangan hingga 12,9 miliar barel, Pertamina menggandeng Petronas dan Petro Vietnam. Sementara untuk lapangan minyak Garraf, Pertamina maju sendirian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lukoil dan StatoilHydro meminta 'upah' 1,15 dolar per barel untuk setiap minyak yang diekstraksinya dari ladang tersebut. Produksi dari ladang tersebut diperkirakan mencapai 1,8 juta bph. West Qurna-2 saat ini tercatat memiliki cadangan hingga 12,9 miliar barel, dan terletak di bagian Selatan hingga Timur Irak.
Untuk ladang Garraf, Pertamina dikalahkan oleh konsorsium Petronas dan Japex. Konsorsium ini meminta 'upah' 1,49 dolar per barel dengan produksi sekitar 230.000 bph.
Dwi menambahkan, penawaran yang diajukannya merupakan penawaran terbaik yang dapat diberikan Pertamina. Menurutnya, jika BUMN Migas tersebut ngotot menurunkan penawarannya maka tidak akan ekonomis.
"Penawaran yang kami ajukan sudah berdasarkan perhitungan keekonomian proyek. Kalau kami ajukan dibawah itu maka tidak akan ekonomis," ungkap dia.
Seperti diketahui, Pemerintah Irak kembali mengumumkan pemenang tender pengelolaan blok migas tahap II. Pemerintah Irak berharap dengan pengumuman kontrak ini bisa membawa produksi minyaknya menjadi 12 juta barel per hari (bph) sehingga bisa sejajar dengan produksi minyak terbesar dunia yang kini dipegang Arab
Saudi.
Dengan cadangan minyak 115 miliar barel, Irak saat ini tercatat sebagai pemilik cadangan terbesar ketiga di dunia setelah Arab Saudi dan Iran. Penjualan minyak Irak saat ini menyumbang 85% dari pendapatan pemerintah.
Pertamina melalui anak usahanya, Pertamina Hulu Energy tercatat sebagai salah satu peserta. Pertamina tercatat dua kali mengikuti tender migas di Irak. Pada tender pertama, Pertamina mundur karena menilai harga yang ditawarkan pemerintah Irak untuk setiap barel minyak yang diproduksinya tidak layak.
(epi/qom)











































