"Untuk capex berasal dari corporate loan ke Pertamina sebagai perusahaan induk," ujar Direktur Utama PT PGE, Abadi Poernomo di sela acara seminar Indonesia Entering The New Era of Achieving 4700 MW To Be The Leanding Gheothermal Power Producer, di Grand Ballroom, Hotel Darmawangsa, Jakarta, Senin (14/12/2009).
Ke 27 sumur tersebut yaitu 4 sumur di Kotamobagu Sulawesi Utara, 4 sumur di Sungai Penuh Jambi, 4 sumur di Hululais Bengkulu, 6 sumur di Lumut Balai Muara Enim Sumatera Selatan, 2 sumur di Karaha Bodas, 4 sumur di Ulubelu Lampung, dan 3 sumur di Lahendong.
"Untuk mengebor satu sumur biasanya membutuhkan alokasi dana sebesar US$ 6-7 juta," ungkapnya.
Ia menambahkan, mulai tahun 2011 akan ada sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) milik PGE yang akan beroperasi seperti PLTP Karaha Bodas dengan kapasitas 30 Megawatt (MW) dan PLTP Ulubelu unit 1 dengan kapasitas 110 MW.
Sementara untuk PLTP Lumut Balai dengan kapasitas 110 MW pada akhir 2012 dan PLTP Lahendong 20 MW ditargetkan mulaiΒ awal dan akhir tahun awal 2012. "Jadi untuk tahun depan, belum ada yang masuk, baru tahun 2011," imbuh dia.
Abadi menyatakan pada awal Januari tahun depan pihaknya akan melakukan negosiasi harga jual listrik panas bumi dengan PLN untuk penjualan listrik dari PLTP Lumut Balai unit 1 dan 2, PLTP Lahendong unit 5 dan 6 serta PLTP Ulubelu unit 3 dan 4. "Kami akan negosiasikan itu awal Januari ini," ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, Abadi juga merasa senang dengan telah ditetapkannya harga jual tertinggi listrik panas bumi sebesar 9,7 sen dollar AS per kilowattjam.
"Kalau 9,7 sen dollar AS, saya sudah happy karena dari sisi hulu itu sudah masuk keekonomian," katanya.
Abadi menambahkan, saat ini pihaknya juga telah selesai melakukan pembicaraan dengan pihak Japan International Cooperation Agency (JICA) dan juga World Bank terkait pinjaman yang akan dikucurkan dua lembaga keuangan internasional tersebut.Β
Pendanaan dari JICA akan digunakan untuk pembangunan PLTP Lumut balai unit 1 dan 2 sebesar 110 MW. Sementara pinjaman dari World Bank untuk mendanai pembangkit Lahendong dan Ulubelu.
"Saat ini kami juga tengah melakukan pembicaraan dengan Asian Development Bank (ADB) dan juga KFW, Jerman," tandasnya.
(epi/dnl)











































