Menurut Wakil Direktur Utama PLN Rudiantara, saat ini perseroan sudah mendapat komitmen pinjaman sebesar Rp 11 triliun dari beberapa bank.
"Sisanya masih akan kita cari tahun depan. Bisa dari obligasi atau pinjaman perbankan," katanya saat ditemui di Kantor Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (14/12/2009) malam.
Sebelumnya, BUMN listrik itu mendapat kucuran pinjaman dari empat perbankan nasional senilai Rp 4,54 triliun untuk pembangunan transmisi baik di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa sebagai bagian dari proyek 10.000 MW tahap pertama.
Sementara mengenai pendanaan pembangkit mega proyek tersebut, Rudiantara mengatakan, seluruhnya sudah tersedia. Dengan ini, perseroan akan fokus mencari dana untuk transmisi serta proyek 10.000 MW tahap kedua di tahun 2010.
"Dengan adanya penandatanganan hari ini, semua komitmen pendanaan 10.000 MW sudah tersedia," ungkapnya.
Total kebutuhan pembangunan pembangkit di proyek itu mencapai US$ 5,65 miliar dan Rp 23,4 triliun. Dari jumlah itu, sebanyak US$ 720 juta dan Rp 3,6 triliun dipenuhi dari penerbitan surat utang.
Sedangkan sisanya senilai US$ 4,6 miliar dan Rp 19,6 triliun didapat dari pinjaman perbankan, baik bank luar negeri maupun dalam negeri.
"Ini sudah lumayan cepat, semua terpenuhi praktis hanya dalam jangka waktu 2008-2009," tambahnya.
Kemarin, perusahaan plat merah itu sudah menandatangani pinjaman sebesar US$ 457,6 juta dan Rp 635 miliar atau secara total sekitar Rp 5 triliun dengan perbankan nasional dan internasional untuk pembangunan lima PLTU yang merupakan bagian dari proyek percepatan 10.000 MW tahap pertama.
Dengan ditandatanganinya pendanaan ini, maka kebutuhan untuk 10 lokasi PLTU di Jawa Bali dan 23 lokasi PLTU di Luar Jawa Bali sudah terpenuhi, sehingga PLN dapat konsentrasi memicu pembangunannya untuk mengatasi krisis listrik.
(ang/qom)











































