Menurut Direktur Utama PT PLN (Persero), Fahmi Mochtar, peningkatan tersebut seiring dengan beroperasinya seluruh PLTU yang masuk dalam proyek 10.000 megawatt (MW) tahap I pada tahun 2013.
"Saat 10.000 MW tahap pertama selesai, maka kebutuhan batubara akan meningkat lebih dari dua kali lipat yaitu 79 juta ton," ujar Fahmi sebelum menyampaikan kuliah umum di acara Wisuda Sarjana Universitas Sriwijaya, Palembang, Kamis (17/12/2009).
Sementara, khusus kebutuhan batubara untuk proyek 10.000 MW tahap pertama, lanjut Fahmi, yaitu sebesar 30 juta ton. Dari kebutuhan tersebut, BUMN listrik itu sudah menandatangani kontrak dengan berbagai perusahaan untuk memasok 27 juta ton bara. Sementara sisanya masih dalam proses tender.
Tiga juta ton batubara yang sedang dalam proses tender, nantinya akan digunakan untuk pembangkit-pembangkit di luar Jawa yang beroperasi 2012 dan PLTU Adipala, Jawa Tengah yang beroperasi pada tahun 2013.
"Sekarang sudah pengumuman yang lulus prakualifikasi. Setelah itu mereka ajukan harga, lalu kita evaluasi sekitar 3 bulan depan sudah diketahui siapa yang menang," ungkap dia.
Fahmi memaparkan, proyek percepatan 10.000 MW tahap I itu seluruhnya merupakan PLTU dan tersebar di 10 proyek yang berlokasi di Jawa dengan total kapasitas 7.490 MW. Sembilan proyek berlokasi di Sumatera dengan total kapasitas 1.225 MW, 4 proyek berlokasi di Kalimantan dengan total kapasitas 220 MW, 4 proyek berlokasi di Sulawesi dengan total kapasitas 117 MW, 2 proyek berlokasi di Maluku dengan total kapasitas 46 MW, serta dua lokasi di Papua dengan total kapasitas 34 MW.
"Untuk tahun ini dua pembangkit dengan kapasitas 915 MW di Jawa sudah mulai beroperasi," kata Fahmi.
Sementara untuk tahun 2010, sebesar 3.240 MW di Jawa dan 121 MW di luar Jawa, selanjutnya pada tahun 2011 sebesar 1.975 MW di Jawa dan 1.558 MW di luar Jawa, disusul pada tahun 2012 sebesar 700 MW di Jawa dan 368 MW di luar Jawa dan terakhir pada tahun 2013 sebesar 660 MW di Jawa.
"Hanya PLTU Adipala saja yang akan beroperasi tahun 2013 karena di sana kan menggunakan teknologi superkritikal jadi waktunya lebih lama," tandasnya.
(epi/ang)










































