"Kita bermodal kosong, tak ada yang bisa kita andalkan untuk menyerbu pasar China," kata Sofjan yang juga ketua umum Apindo saat ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (17/12/2009).
Sofjan menegaskan kemampuan Indonesia mengekspor ke pasar China hanyalah di bidang bahan baku atau bahan mentah seperti sumber daya alam yaitu gas, batubara dan lain-lain. Sedangkan untuk produk manufaktur Indonesia dinilainya nihil alias tak berdaya.
"Tadinya kita berpikir kita bisa memanfaatkan pasar China yang 1,3 miliar orang tapi kenyataannya kita yang bakal menjadi pasar," katanya.
Hal ini kata Sofjan karena produk Indonesia sulit menembus pasar China, terlebih lagi produk-produk China di negeri asalnya sudah cukup kompetitif. Masalah-masalah klasik soal daya saing seperti pasokan listrik, infrastruktur, efisiensi, upah buruh menjadi masalah-masalah yang terus belum terselesaikan.
"Manufaktur kita tidak siap, kalau natural resource . Ini karena pemerintah China all out , bunga murah, insentif ekspor, efisiensi buruh," jelas Sofjan.
Untuk itu kata dia yang paling mungkin untuk menekan risiko terburuk dari perdagangan bebas ini adalah menerapkan langkah non barrier seperti standar nasional Indonesia (SNI). "Paling bisa kita lakukan adalah non tarif, kalau safeguard langsung dibalas. Kita harus diam-diam misalnya SNI," katanya.
(hen/dnl)











































