Serangan itu dikeluarkan dalam laporan berjudul "APP: 30 Tahun Merusak Hutan" yang diluncurkan di Beijing, Kamis (17/12/2009) kemarin.
Laporan Greenpeace terhadap kegiatan ilegal Sinar Mas ini diluncurkan saat pertemuan iklim penting PBB di Kopenhagen dimana perlindungan hutan untuk menurunkan emisi global didiskusikan. Greenpeace merekomendasikan terbentuknya dana global untuk menghentikan deforestasi di negara seperti Indonesia dan Brasil, dimana negara maju harus menginvestasikan dana US$ 45 miliar per tahun untuk perlindungan hutan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Greenpeace dalam siaran persnya, Jumat (18/12/2009) menjelaskan, pada Oktober 2009, Greenpeace China menunjuk Intergrated Paper Services Inc (IPS) untuk melakukan tes laboratorium guna menganalisa serat pada lima tipe sampel kertas. Hasilnya menunjukkan bahwa tiga dari lima jenis kertas itu mengandung pulp tropis campuran yang berasal dari hutan alam.
Greenpeace memperkirakan bahwa proses produksi setiap ton pulp APP (Indonesia) pada 2007 menghasilkan emisi hingga 5,1 ton CO2 akibat perusakan hutan alam dan memperkirakan 29 ton CO2 berasal dari perusakan hutan di lahan gambut yang kaya karbon. Pada 2007, tujuh perusahaan APP (China) mengimpor 309.000 ton pulp dari Indonesia untuk memproduksi 4,39 juta ton produk kertas.
Laporan Greenpeace sebelumnya juga telah membuat Unilever memutuskan kontrak pasokan CPO dengan Sinar Mas.
"Perusahaan multinasional ini melakukan sesuatu karena tidak mau lagi terlibat dalam perusakan hutan dan perubahan iklim. Ini mengirimkan pesan jelas kepada pemerintah Indonesia bahwa perusahaan dan masyarakat Indonesia ingin melihat aksi segera untuk menyelamatkan hutan kita," ujar ujar Joko Arif, Jurukampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara.
Indonesia adalah satu negara dengan tingkat deforestasi tercepat di dunia. Kerusakan hutan lahan gambut di negara ini saja tercatat sebagai 4% penyumbang emisi gas rumah kaca dunia. Hal ini, menjadikan Indonesia sebagai negara terbesar ketiga penyumbang emisi global setelah Amerika Serikat dan China.
Greenpeace mengungkapkan, perusahaan Selandia Baru Spicers Papers juga mengeluarkan siaran pers yang mengatakan bahwa akan menghentikan pembelian dalam beberapa bulan ke depan sebagai upaya perusahaan ini untuk membantu suplier Indonesia menunaikan kewajibannya memperbaiki performa lingkungan mereka.
Pihak Sinar Mas sendiri sebelumnya telah menyayangkan laporan dari Greenpeace karena dikeluarkan sebelum dilakukan perundingan terlebih dahulu. Padahal Sinar Mas mengaku siap berdialog dan melakukan berbagai perbaikan.
"Yang dilakukan Greenpeace bukan semata-mata murni untuk lingkungan. Kita menganggap ada penumpang gelap yang membonceng Greenpeace," ujar Managing Director Sinar Mas Group Gandhi Sulistyanto beberapa waktu lalu.
(qom/qom)











































