Hingga saat ini Indonesia tercatat menjadi salah satu pengimpor jeroan (sapi) terbesar karena pola konsumsi masyarakatnya yang masih senang mengkonsumsi jeroan. Bahkan tren konsumsi jeroan diperkirakan meningkat karena melemahnya daya beli untuk jenis jeroan (sapi dan ayam).
Menteri Pertanian Suswono mengakui adanya fenomena ini. Suswono berpendapat permasalahan ini disebabkan masih rendahnya daya beli masyarakat untuk membeli daging (sapi). Untuk itu, ia berencana akan melakukan kampanye mengurangi konsumsi jeroan dan mengkaji untuk mengerem importasi jeroan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, kata dia, upaya menekan konsumsi masyarakat terhadap jeroan bisa juga dilakukan dengan meningkatkan daya beli masyarakat. Sebagai gambaran saja saat ini harga daging sapi rata-rata mencapai Rp 64.000 per kg, sedangkan harga jeroan sapi hanya sekitar Rp 18.000 per kg.
"Pilihan lain adalah daya beli kita tingkatkan, untuk mengganti jeroan ke daging," ucapnya.
Terkait dengan upaya menekan impor, lanjut Suswono, pihaknya berupaya melakukan itu, terlebih barang-barang yang diimpor merupakan barang yang berbahaya bagi kesehatan manusia.
"Saya rasa setiap produk harus melalui lab karantina, kalau itu membahayakan akan kita tolak. Sepanjang tidak membahayakan masih dibolehkan," katanya.
Konsumsi jeroan dalam negeri per tahunnya mencapai 78.000 ton diantaranya yang dipasok dari dalam negeri dan impor dari negara-negara seperi AS, Selandia Baru, Kanada dan Australia. Termasuk yang dimpor dari Selandia baru dan Australia mencapai 23.000 ton per tahun.
Selam ini impor jeroan dilakukan dalam bentuk hati, paru, babat, usus, jantung dan sebagainya. Selain dikonsumsi langsung untuk makan sehari-hari masyarakat, jeroan juga diduga digunakan untuk menambah bahan baku usaha baso, nasi goreng, sate dan lain-lain.
(hen/qom)
