Tidak Sehat, RI Siap Kurangi Impor Jeroan

Tidak Sehat, RI Siap Kurangi Impor Jeroan

- detikFinance
Senin, 21 Des 2009 11:02 WIB
Jakarta - Pemerintah akan mempertimbangkan untuk mengerem importasi produk jeroan (isi perut bukan daging) yang selama ini cukup tinggi. Hal ini terkait ekses buruk yang ditimbulkan dari mengkonsumsi jeroan bagi kesehatan masyarakat.

Hingga saat ini Indonesia tercatat menjadi salah satu pengimpor jeroan (sapi) terbesar karena pola konsumsi masyarakatnya yang masih senang mengkonsumsi jeroan. Bahkan tren konsumsi jeroan diperkirakan meningkat karena melemahnya daya beli untuk jenis jeroan (sapi dan ayam).

Menteri Pertanian Suswono mengakui adanya fenomena ini. Suswono berpendapat permasalahan ini disebabkan masih rendahnya daya beli masyarakat untuk membeli daging (sapi). Untuk itu, ia berencana akan melakukan kampanye mengurangi konsumsi jeroan dan mengkaji untuk mengerem importasi jeroan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya kira perlu ada kampanye supaya tidak terlalu banyak konsumsi jeroan dari sisi kesehatan tidak bagus," katanya disela-sela acara tinjauan pasar beras  Cipinang, Senin (21/12/2009).

Selain itu, kata dia, upaya menekan konsumsi masyarakat terhadap jeroan bisa juga dilakukan dengan meningkatkan daya beli masyarakat. Sebagai gambaran saja saat ini harga daging sapi rata-rata mencapai Rp 64.000 per kg, sedangkan harga jeroan sapi hanya  sekitar Rp 18.000 per kg.

"Pilihan lain adalah daya beli kita tingkatkan, untuk mengganti jeroan ke daging," ucapnya.

Terkait dengan upaya menekan impor, lanjut Suswono, pihaknya berupaya melakukan itu, terlebih barang-barang yang diimpor merupakan barang yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

"Saya rasa setiap produk harus melalui lab karantina, kalau itu membahayakan akan kita tolak. Sepanjang tidak membahayakan masih dibolehkan," katanya.

Konsumsi jeroan dalam negeri per tahunnya mencapai 78.000 ton diantaranya yang dipasok dari dalam negeri dan impor dari negara-negara seperi AS, Selandia Baru, Kanada dan Australia. Termasuk yang dimpor dari Selandia baru dan Australia mencapai 23.000 ton per tahun.

Selam ini impor jeroan  dilakukan dalam bentuk hati, paru, babat, usus, jantung dan sebagainya. Selain dikonsumsi langsung untuk makan sehari-hari masyarakat, jeroan juga diduga digunakan untuk menambah bahan baku usaha baso, nasi goreng, sate dan lain-lain.


(hen/qom)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads