“Seperti kita katakan beberapa sektor yang sifatnya adalah industri manufaktur memang sudah ditengarai memiliki atau merasakan dampak yang akan cukup buruk-lah terhadap FTA ini,” ungkapnya di Gedung Departemen Keuangan, Jalan Wahidin, Jakarta, Rabu (23/12/2009).
Sejauh ini, tambah Sri Mulyani, Indonesia merupakan negara yang cukup kuat untuk produk primer. Bahkan, sampai sekarang bisa dikatakan belum ada kompetitornya untuk penyediaan produk ini.
Selain karena barangnya memang tersedia, pemerintah juga lebih sering mempromosikannya sebagai komiditi ekspor. Lain halnya dengan industri manufaktur. Indonesia masih lemah terhadap industri ini karena banyaknya komponen pendukung yang belum tersedia dan kurangnya promosi.
“Kita perlukan untuk melakukan antisipasi secara umum ekspor maupun promotion dalam negeri yang masih didominasi oleh barang-barang yang sifatnya bahan mentah yang memang tidak memiliki kompetitor,” jelas Sri Mulyani.
Oleh karena itu, pemerintah harus mengantisipasi hal tersebut. Sri Mulyani menyatakan perlunya revitalisasi industri manufaktur dengan pemberian insentif dan perbaikan kualitas infrastruktur pendukung industri ini.
Selain itu, tambahnya, pemerintah juga harus memperbaiki kebijakan dan birokrasi agar tidak menimbulkan biaya tinggi dalam pelaksanaan industri manufaktur ini di Indonesia.
“Tidak hanya sekedar memberikan insentif atau juga kualitas infrastruktur perbaikan-perbaikan, dari sisi governance juga dibutuhkan agar tidak timbulkan high cost economy . Saya akan memberi concern dari bagaimana kita mendukung pemulihan industri manufaktur dengan suatu paket policy yang komprehensif” jelasnya.
Dari sisi penerimaan negara, Sri Mulyani menegaskan pelaksanaan FTA tidak akan berpotensi menurunkan penerimaan negara. Hal ini bisa terlihat dari penerimaan Bea Cukai yang terus meningkat walaupun dari sisi tarif semakin menurun. Hal ini, tambahnya, karena adanya reformasi birokrasi dalam tubuh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
“Dalam 3 tahun terakhir, kita lihat bea cukai kita bekerja sangat bagus. Dalam kondisi tarif yang terus menurun, kita tidak melihat penerimaan itu turun,” tegas Sri Mulyani.
(nia/epi)











































