Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Pedagang Gula dan Terigu Indonesia (Apegti) Natsir Mansyur saat dihubungi detikFinance , Senin (28/12/2009).
"Dalam situasi sekarang dimana produksi turun, rencana impor 500.000 ton, secara otomatis mempengaruhi harga (internasional)," kata Natsir.
Ia mengatakan dengan harga gula internasional dikisaran 690 poundsterling per ton maka harga gula hingga ke tingkat pedagang di Tanah Air mencapai Rp 10.500 per kg, sehingga jika dihitung sampai ketingkat konsumen atau pengecer mencapai Rp 11.000 per kg.
"Sekarang pedagang mendapatkan gula dari mana," tanya Natsir.
Natsir menjelaskan dari sisi para pedagang dengan adanya harga gula yang tinggi akan berimbas kepada modal yang harus disediakan setiap para pedagang gula. Ia menambahkan kondisi pasar seperti ini tentunya tidak baik dari sisi pelaku usaha apalagi konsumen atau masyarakat.
"Kalau barangnya murah ya kita jual murah, kalau mahal ya kita jual mahal, jadi mempengaruhi modal," katanya.
Untuk itu ia mendesak agar Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dan Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Bayu Krisnamurthi untuk bertanggung jawab terkait masalah ini. Padahal kata dia, jika pemerintah memiliki perencanaan yang jeli dan tepat masalah impor gula tidak akan terjadi.
"Kalau perencanaan baik, mendapatkan harga tidak mahal, dan tidak panik," katanya.
Seperti diketahui awal Desember 2009 lalu pemerintah memutuskan untuk mengimpor 500.000 ton gula, untuk memenuhi kekurangan pasokan gula sepanjang Januari-April 2010. Rencananya paling lambat 10 Januari 2010 pengiriman pertama gula impor secara bertahap sudah bisa dilakukan.
(hen/epi)










































