"Nanti hasil joint study tersebut akan menjadi dasar mana saja lapangan yang dapat dikelola secara bersama," ujar Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan dalam siaran persnya yang dikutip detikFinance, Senin (28/12/2009).
Hal tersebut merupakan hasilΒ dariΒ pertemuan Karen dengan Chairman & CEO Sonangol Manuel Vicente di sela-sela pertemuan tingkat menteri Negara-negara OPEC yang berlangsung 22 Desember 2009 di Luanda.
Dalam rangka menjajaki kesempatan kerjasama dan guna mendukung rencana peningkatan produksi migas Pertamina di masa datang, Karen juga turut mendampingi Menteri ESDM Darwin Z. Saleh dalam sejumlah pertemuan bilateral dengan menteri-menteri energy dari Angola, Qatar, Irak, dan Libya.
Khusus dengan Angola juga dijajaki kerjasama peningkatan kapasitas tenagaΒ Β Β Β perminyakan Angola melalui joint study dan pelatihan di Indonesia. Dengan produksi minyak yang mencapai 1,9 juta barrel per hari, Angola diprediksikan akan mampu memproduksi hingga di atas 2 juta barrel dalam 3 tahun mendatang.
Hingga kini, sejumlah IOC seperti Total, Chevron, BP, ENI serta NOC lainnya seperti Petrobras dan Statoil sudah menjalin kerjasama dalam pengelolaan migas di Angola.
Sedangkan dengan pihak Qatar, kedua menteri juga telah sepakat untuk melakukan kerjasama untuk mensuplai dan memasok Elpiji dan LNG ke Indonesia melalui Pertamina.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kehadiran Indonesia dalam pertemuan tingkat menteri Negara-neagara OPEC ini merupakan bagian dari komitmen Indonesia untuk tetap menjalin persahabatan dengan negara-negara anggota OPEC.
Meskipun Indonesia sudah tidak lagi merupakan anggota penuh, Indonesia menghargai upaya OPEC untuk menjaga stabilitas pasar minyak dunia, bahkan Indonesia akan mendukung upaya OPEC dengan menjembatani antara kepentingan OPEC dan aspirasi konsumen, khususnya negara-negara berkembang.
(epi/dro)











































