Volume asbuton sebanyak 33.477,94 ton tersebut akan digunakan untuk melapisi jalan nasional sepanjang 463,20 Km yang tersebar di 27 provinsi. Target tersebut lebih besar dari penggunaan pada tahun 2009 di seluruh Indonesia sebanyak 21.265,51 ton untuk pelapisan jalan yang sebelumnya ditargetkan sebanyak 32.171,4 ton.
Rencananya volume asbuton itu akan digunakan untuk preservasi (pemeliharaan dan peningkatan kualitas jalan) jalan nasional yang ada di seluruh provinsi.
"Kita utamakan untuk preservasi jalan nasional," kata Direktur Bina Teknis Ditjen Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum Danis Sumadilaga dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (29/12/2009).
Dikatakannya, trennya penggunaan asbuton terus naik setiap tahunnya, pada tahun 2008 penggunaan asbuton yang hanya 13.000 ton. Alokasi dana yang digunakan untuk pemanfaatan asbuton itu akan dianggarkan dari APBN tahun 2010.
"Setiap kilogram, asbuton itu dipatok dengan harga Rp 6000-Rp 7000 per kg," katanya.
Rencananya, asbuton itu akan dimanfaatkan untuk pemeliharaan jalan di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Lampung, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Bangka Belitung, Sulawesi Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Bali, Maluku, Maluku Utara,
Papua, dan Papua Barat, Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan.
"Belum ada untuk proyek tol, ini semua untuk jalan nasional. Ada juga untuk jalan strategis di Papua, tapi ini semua untuk jalan yang sudah ada," katanya.
Selama ini aspal buton hanya dihasilkan dari Kawasan Pulau Buton, yang merupakan produk dalam negeri. Pemerintah mencoba meningkatkan pemanfaatan asbuton, mengingat sebagian aspal selama ini lebih banyak diimpor. (hen/ang)










































