“Meskipun produksi tidak tercapai, namun dari sisi penerimaan melampaui target,” ujar Kepala BP Migas R Priyono di Gedung Patra Jasa, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (30/12/2009).
Sementara dari sisi investasi, Priyono mengakui memang terjadi penurunan. Hal ini terjadi karena adanya peningkatan efisiensi biaya khususnya untuk biaya administrasi dan umum dan juga adanya penundaan proyek sehingga adanya penundaan expenditure terjadi.
“Jumlah expenditure tahun ini sekitar US$ 10.8 miliar sementara yang dihitung hanya sekitar US$ 9,92 miliar yang dibayar sebagai cost recovery tahun ini. Sementara anggaran Cost Recovery dalam APBN 2009 sebesar US$ 11,05 miliar,” ungkap dia.BP Migas memastikan target produksi dan lifting minyak nasional sebesar 960.000 ribu barel per hari (bph) yang ditetapkan dalam APBN 2009 tidak tercapai. Saat ini produksi dan lifting minyak tercatat sekitar 949.130 bph, sementara produksinya 948.580 bph.
“Produksi minyak nasional tidak mencapai target yang ditetapkan pemerintah tapi ini tidak mengecewakan karena hanya 2.09 persen yang tidak dapat kita capai,” ujarnya.
Menurut Priyono, ada dua hal yang menyebabkan target produksi tersebut tidak tercapai. Pertama yaitu adanya penghentian sementara fasilitas produksi karena adanya gangguan yang tidak direncanakan (unplanned shutdown) dan juga terkendalanya pengembangan lapangan baru.
“Kalau tidak ada gangguan tersebut, BP Migas dan Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) optimis maka produksi minyak bisa mencapai 994 ribu bph,” ungkap dia.
Berbeda dengan produksi minyak, untuk produksi gas tahun ini justru telah melampaui target. Saat ini produksi gas dalam negeri mencapai 7.960 mmscfd atau sebesar 106 persen dari target sekitar 7.526 mmscfd.
“Sehingga kalau produksi minyak dan gas digabung maka produksinya mencapai ekuivalen 2, 374 juta setara barel minyak,” ungkap dia.
(epi/ang)










































