Demikian hal itu dikemukakan oleh Ketua Badan Anggaran sekaligus anggota Komisi XI DPR-RI Harry Azhar Azis ketika dihubungi detikFinance, Sabtu (2/1/2010).
"Kalau subsidi BBM tidak terealisir itu bagus. Tahun depan, dananya akan didorong supaya bisa dipakai untuk pembangunan infrastruktur," jelasnya.
Sebelumnya, pemerintah mengungkapkan dana subsidi BBM yang dikeluarkan lebih rendah dari target yang ditetapkan. Realisasi subsidi BBM hanya sebesar Rp 45 triliun dari targetnya Rp 52,4 triliun.
Realisasi subsidi BBM mencapai Rp 45 triliun dari target Rp 52,4 triliun atau 85,9%. Namun realisasi subsidi listrik melonjak, dari target Rp 47,5 triliun menjadi Rp 49,5 triliun.
Anggaran subsidi energi pada APBN-P 2009 adalah Rp 99,9 triliun, namun realisasinya hanya Rp 94,5 triliun atau 94,6%. Rendahnya realisasi subsidi energi ini terutama berasal dari penghematan subsidi BBM karena realisasi harga Mean Oil Platts Singapore (MOPS) yang lebih rendah sepanjang tahun 2009.
"Semakin kecil realisasi subsidi energi itu berarti semakin bagus," ujar Harry.
Menurutnya, seharusnya realisasi penyerapan subsidi energi tersebut bisa lebih kecil lagi jika pemerintah memiliki aturan yang ketat dan tidak mensubsidi masyarakat golongan atas. Subsidi tersebut ditujukan untuk membantu daya beli masyarakat miskin, namun yang terjadi tidak seperti yang diharapkan.
"Target subsidi BBM itu perlu diperkuat lagi. Masih banyak mobil mewah beli premium, kalau begitu kan pemerintah menyumbang orang kaya," tegasnya.
Tahun 2010 ini, DPR mengaku akan lebih tegas terhadap target subsidi tersebut. Pihaknya akan meminta pemerintah melakukan pengetatan aturan terhadap pemberian subsidi tersebut.
"Jangan sampai orang miskin tidak kebagian karena diambil orang kaya semua," tandasnya.
(ang/qom)










































