Harga minyak dan emas berhasil mencetak harga tertingginya sepanjang 2009, sementara tembaga dan gula melonjak tajam.
"2009 telah menjadi tahun rollercoaster untuk kebanyakan harga emas, dengan tembaga, gula, minyak Light mencatat kinerja yang sangat baik," ujar Andrey Kryuchenkov, analis komoditas dari VTB Capital seperti dikutip dari AFP, Senin (4/1/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, stimulus finansial China yang sangat besar secara jelas memberikan keuntungan pada material-material yang berhubungan dengan ekspansi infrastruktur dan pertumbuhan industri.
"Permintaan (dari negara-negara industri utama) telah menunjukkan tanda-tanda pemulihan ekonomi yang signifikan dan berkesinambungan. Data akhir tahun, terutama dari AS secara fair cukup menenangkan hati," tambahnya.
Pada perdagangan Kamis (31/12/2009) di New York, kontrak utama minyak light pengiriman Februari naik 8 sen menjadi US$ 79,36 per barel. Minyak Brent juga naik tipis 10 sen menjadi US$ 77,93 per barel.
Sepanjang 2009, harga minyak mentah dunia untuk jenis light New York mencapai US$ 62 per barel. Harga minyak sempat menyentuh titik terendahnya di US$ 33 per barel dan tertinggi di US$ 82 per barel. Namun harga tertinggi ini masih jauh dari harga yang perncah dicapai pada Juli 2008 ketika harga menembus US$ 147 per barel.
Harga emas dunia juga berhasil mencetak rekor spektakulernya di tahun 2009 ini dengan harga tertinggi pada US$ 1.226,56 per ounce pada awal Desember sebelum akhirnya surut.
Pada perdagangan hari terakhir tahun 2009, harga emas di London Bullion Market ditutup pada US$ 1.104 per ounce, turun dari sebelumnya di 1.104,50 per punce.
Sedangkan harga tembaga melonjak pada pekan terakhir di tahun 2009. Harga tembaga menutup tahun 2009 pada harga US$ 7.423,75 per ton, tertinggi sejak September 2009.
"Harga tembaga telah naik hingga 140% sepanjang tahun ini," ujar Edward Meir, analis dari MF Global.
Demikian pula harga gula internasional yang berhasil mencetak kenaikan hingga dua kali lipat sepanjang tahun 2009. Harga gula mengakhiri tahun 2009 pada titik tertingginya sejak 28 tahun terakhir akibat ketatnya suplai.
"Secara tradisional musiman, komoditas seperti jagung dan gula sepertinya akan tetap memiliki kinerja yang kuat pada 2010 sehubungan dengan rendahnya stok akhir pada musim terakhir," tambah Kryuchenkov.
Pada perdagangan Kamis, 31 Desember 2009 di New York Board of Trade (NYBOT), harga gula non-rafinasi pengiriman Maret naik menjadi 27,24 sen per pound dari sebelumnya 26,76 sen per pound. Di bursa berjangka London, LIFFE harga gula putih pengiriman Maret naik menjadi 706,30 poundsterling per ton dari sebelumnya 694,50 pounds per ton.
(qom/qom)











































